Bukan Digital Gold, Bitcoin (BTC) Justru Makin Mirip Saham Teknologi
Kredit Foto: Unsplash/Kanchanara
Penurunan harga bitcoin di awal bulan ini terasa familiar menyusul adanya kemiripan pola kejatuhan dengan saham teknologi. Saat saham perangkat lunak berpertumbuhan tinggi mengalami aksi jual, bitcoin ikut jatuh hampir seirama.
Manajer Aset Kripto, Grayscale menilai pergerakan ini memperkuat pandangan bahwa untuk saat ini, bitcoin diperdagangkan lebih mirip aset teknologi berkembang ketimbang store of value yang matang seperti emas.
Baca Juga: Strategy Konsisten Serok Bitcoin, Kepemilikan Tembus 714.644 BTC
Kepala Riset Grayscale, Zach Pandl mengatakan secara fundamental, bitcoin memiliki karakteristik yang sering disamakan dengan emas mulai dari pasokan terbatas, independen dari pemerintah dan ditopang jaringan terdesentralisasi yang tangguh.
Namun Ia menegaskan, usia bitcoin yang masih muda membuatnya masih berada pada tahap awal perjalanan moneternya, jauh jika dibandingkan dengan emas yang telah digunakan selama ribuan tahun.
“Bitcoin dapat dianggap sebagai penyimpan nilai jangka panjang. Jaringannya kemungkinan besar akan terus beroperasi jauh melampaui usia kita, dan asetnya bisa mempertahankan nilai riilnya," katanya.
Namun, potensi jangka panjang tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku harga saat ini.
‘Digital Gold’ Gagal Saat Pasar Tertekan
Dalam beberapa bulan terakhir, klaim bitcoin sebagai digital gold terlihat semakin rapuh. Alih-alih menjadi aset lindung nilai saat ketidakpastian meningkat, bitcoin justru turun tajam dari puncaknya dan bergerak sejalan dengan aset berisiko ketika investor global bersikap defensif.
Pada saat yang sama, emas fisik justru melonjak ke level rekor, menarik arus dana masuk, sementara bitcoin mengalami arus keluar modal. Perbedaan arah ini melemahkan argumen bahwa kelangkaan Bitcoin saja sudah cukup untuk membuatnya berperilaku seperti emas saat pasar membutuhkan perlindungan.
Bitcoin Masih Taruhan Adopsi
Menurut Pandl, berinvestasi dalam bitcoin saat ini pada dasarnya adalah taruhan terhadap adopsi global. Selama bitcoin belum diterima secara luas sebagai aset moneter global, harganya kemungkinan besar akan tetap sensitif terhadap selera risiko.
Artinya, bitcoin cenderung naik saat investor mengejar pertumbuhan, turun saat pasar risk-off dan bergerak sejalan dengan portofolio berorientasi teknologi, bukan bertindak sebagai pelindung nilai seperti emas.
Pandl juga menyoroti beberapa dinamika pasar yang mendukung pandangan tersebut, antara lain tekanan jual yang dipimpin investor hingga arus keluar dari exchange-traded funds spot bitcoin di Amerika Serikat (AS). Semua sinyal ini lebih menyerupai unwind aset pertumbuhan, bukan krisis kepercayaan terhadap jaringan bitcoin itu sendiri.
Ia juga melihat fondasi pemulihan jangka panjang mulai terbentuk meski volatilitas masih tinggi. Dorongan regulasi terhadap stablecoin dan aset tertokenisasi serta inovasi berkelanjutan dalam infrastruktur blockchain, dinilai bisa mendorong fase adopsi berikutnya.
Bitcoin masih menghadapi tantangan besar, mulai dari isu skalabilitas, biaya transaksi, hingga risiko teknologi jangka panjang seperti ketahanan terhadap komputasi kuantum. Pandl menilai, jika tantangan-tantangan ini berhasil diatasi, volatilitas bitcoin berpotensi menurun dan korelasinya dengan saham bisa memudar. Pada titik itu, perilaku bitcoin mungkin benar-benar mulai menyerupai emas namun dengan fondasi digital.
Baca Juga: Di Balik Koreksi Tajam Harga Bitcoin (BTC): Bukan Hal Baru
Namun untuk saat ini, pasar menilai bitcoin lebih sebagai aset teknologi berisiko daripada safe haven. Investor Indonesia dapat melihat hal ini sebagai pengingat bahwa meskipun narasi digital gold menarik, realitas pergerakan harga bitcoin masih sangat bergantung pada siklus risiko global dan kecepatan adopsinya sebagai aset moneter dunia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: