BMKG sebut Salju Abadi di Puncak Jaya Papua Akan Habis Sepenuhnya di Akhir 2025
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan saat ini sudah terjadi perubahan iklim dan telah berdampak langsung ke masyarakat.
Salah satu contoh langsungnya adalah peningkatan intensitas curah hujan ekstrem yang belakangan terjadi di wilayah Indonesia.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menyoroti fenomena Siklon Tropis Senyar yang melanda wilayah Sumatra di penghujung tahun 2025 lalu.
Menurutnya, Siklon Tropis Senyar memicu curah hujan yang melampaui batas normal dan mencatatkan rekor baru di beberapa wilayah.
Baca Juga: BMKG Prediksi Kembali Terjadi Hujan Ekstrem di Jakarta Pada Pekan ini, Waspada Banjir!
"Siklon Senyar telah menghasilkan rekor curah hujan dasarian III November tertinggi sejak tahun 1991. Di Kecamatan Koto Tangah, Sumatra Barat, curah hujan selama periode bencana mencapai sekitar tiga kali lipat dari hujan normal di bulan November. Di Singkil Utara, Aceh, curah hujan mencapai dua kali lipat dari kondisi normalnya," kata Ardhasena dalam keterangannya, Rabu (11/2/2026).
Tren perubahan iklim yang terjadi saat ini dibuktikan dengan berbagai catatan yang telah BMKG analisis.
Temuan saintifik dari BMKG melaporkan bahwa tren perubahan iklim sudah mulai terlihat sejak tahun 2024 yang tercatat sebagai tahun terpanas di Indonesia dengan suhu rata-rata mencapai 27,5°C.
Sementara itu, tahun 2025 tercatat sebagai tahun terpanas urutan keenam (27,04°C) dalam sejarah pengamatan di Indonesia dengan anomali suhu +0,38°C di atas rata-rata periode normal 1991-2020.
Ardhasena menjelaskan bahwa kedepan kondisi iklim Indonesia cukup mengkhawatirkan jika tidak dilakukan langkah mitigasi secara kolektif.
Hasil analisis BMKG mencatat di masa mendatang peningkatan suhu masih akan terus terjadi di mana seluruh wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami kenaikan suhu hingga 1,6°C pada periode 2021-2050.
Tidak hanya itu, perubahan iklim juga akan mendorong perubahan pola hujan yakni wilayah utara Indonesia diproyeksikan menjadi lebih basah (hingga 8%), sementara wilayah selatan menjadi lebih kering (hingga -9%).
"Dampaknya, curah hujan yang sebelumnya memiliki periode ulang 100 tahun akan terjadi jauh lebih sering di masa depan. Sebagai contoh, hujan intensitas 250 mm yang tadinya berulang 100 tahun sekali, diprediksi akan muncul setiap kurang dari 20 tahun," tambahnya.
Dampak lain perubahan iklim yang tak kalah kritis adalah mencairnya tutupan es di Puncak Jaya, Papua, yang telah berkurang sekitar 98% sejak tahun 1988 dan diperkirakan akan habis sepenuhnya pada akhir 2025 atau awal 2027.
Selain itu, kenaikan permukaan laut di Indonesia mencapai laju 4,36 mm/tahun, yang mengancam wilayah pesisir dengan banjir rob dan abrasi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat