Kredit Foto: Reuters
Bursa Eropa hari ini (12/2) diproyeksi akan sedikit terguncang usai ditutup dalam level tertinggi sepanjang masa pada perdagangan di Rabu (11/2). Hal ini tidak terlepas dari penguatan saham-saham berbasis komoditas yang mampu menutupi pelemahan sektor teknologi dan sikap investor yang mencermati laporan ketenagakerjaanyang solid dari Amerika Serikat (AS).
Dikutip dari Reuters, Indeks Stoxx 600 mengakhiri perdagangan dengan kenaikan 0,1% ke 621,58. Ia memperpanjang tren bertahan dalam sekitar rekor tertinggi dalam beberapa sesi terakhir.
Baca Juga: Sinyal Perang Dunia, Intelijen Eropa Sebut Xi Akan Andalkan Rusia Saat Pecahnya Konflik China-Taiwan
Penguatan pasar terjadi seiring rotasi investor ke sektor-sektor yang dinilai relatif lebih tahan terhadap potensi disrupsi kecerdasan buatan (AI). Kekhawatiran meningkat bahwa perkembangan teknologi itu dapat menekan kinerja sejumlah industri, khususnya dalam sektor teknologi dan jasa keuangan.
Saham sektor energi memimpin penguatan, ditopang oleh kenaikan saham TotalEnergies. Perusahaan minyak raksasa tersebut menegaskan komitmennya untuk terus memperluas cadangan minyak dan gas, meskipun mengumumkan rencana memangkas program pembelian kembali saham pada kuartal pertama tahun ini.
Di Amerika Serikat, pelaku pasar mencermati data yang menunjukkan perekonomian menciptakan jumlah lapangan kerja jauh di atas ekspektasi pada Januari. Data tersebut mengindikasikan stabilitas pasar tenaga kerja dan memperkuat pandangan bahwa bank sentral berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
“Intinya, semakin banyak lapangan kerja berarti ekonomi mereka semakin kuat, dan itu positif bagi pasar saham global. Itulah yang tercermin dari reaksi pasar Eropa,” ujar Chief Market Analyst Interactive Brokers, Steve Sosnick.
Namun, sektor teknologi justru menjadi penekan indeks. Saham Dassault Systèmes melemah setelah perusahaan perangkat lunak tersebut melaporkan pertumbuhan pendapatan kuartal keempat yang di bawah ekspektasi pasar, serta proyeksi pendapatan tahun ini yang mengecewakan investor.
Perusahaan ini termasuk yang terdampak sentimen negatif terkait disrupsi akal imitasi, yang dalam beberapa pekan terakhir meluas dari sektor teknologi ke perusahaan asuransi, manajer aset hingga penyedia indeks di Eropa dan Amerika Utara.
“Ada kekhawatiran yang masuk akal bahwa akal imitasi dapat mendisrupsi bisnis-bisnis tertentu. Masalahnya, tidak ada investor yang ingin memegang saham perusahaan yang berpotensi menjadi korban disrupsi tersebut,” ungkap Sosnick.
Baca Juga: Ekonomi Bisa Kena, Inilah Dampak Sanksi Uni Eropa Terhadap Pelabuhan Karimun Indonesia
Bagi investor global, pergerakan pasar euro ini mencerminkan dinamika rotasi sektor yang dipicu oleh kombinasi faktor makroekonomi dan perubahan struktural akibat perkembangan teknologi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: