Kredit Foto: Istimewa
Bursa Eropa ditutup nyaris datar pada perdagangan di Selasa (10/2). Investor menimbang berbagai laporan kinerja emiten yang beragam, dengan tekanan dari sektor energi dan asuransi mengimbangi penguatan saham otomotif.
Dikutip dari Reutersi, Stoxx 600 berakhir turun tipis 0,07% ke 620,97. Angka tersebut mencerminkan kehati-hatian pasar menjelang rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: FTSE Russell Tunda Rebalancing Saham Indonesia hingga Juni 2026
BP melemah setelah raksasa energi tersebut melaporkan laba kuartalan yang sesuai ekspektasi analis, namun memutuskan menangguhkan program pembelian kembali saham (share buyback).
BP juga membukukan penurunan nilai (write-down) sekitar US$4 miliar pada bisnis energi terbarukan dan biogasnya. Keputusan ini menekan sentimen sektor energi dan menjadi salah satu faktor penahan laju indeks dari Eropa.
Kekhawatiran terhadap disrupsi kecerdasan buatan (AI) juga mulai merambah sektor lain. Saham-saham asuransi blok euro mencatat penurunan dan memimpin pelemahan sektoral. Pelemahan sendiri dipicu inovasi dari Insurify.
Insurify merilis alat perbandingan asuransi berbasis akal imitasi yang dibangun menggunakan ChatGPT. Inovasi tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap potensi tekanan jangka panjang pada model bisnis tradisional industri asuransi.
Di sisi lain, sektor otomotif dan suku cadang mencatat kenaikan. Saham Ferrari menjadi pendorong utama setelah perusahaan menyatakan laba inti (core earnings) tahun ini diperkirakan naik tipis, serta berhasil melampaui ekspektasi analis untuk kuartal IV 2025.
Meski pergerakan cenderung datar, bursa euro tahun ini masih mengungguli pasar saham dari Amerika Serikat (AS). Meredanya kekhawatiran akan konflik dagangdan meningkatnya harapan pemulihan ekonomi menjadi faktor pendukung utama.
Baca Juga: Yuan Hingga Produk Murah China Berpotensi Hancurkan Industri Uni Eropa
Ke depan, perhatian investor global tertuju pada serangkaian data ekonomi penting dari pekan ini, termasuk laporan inflasi dan tenaga kerja dari Amerika Serikat. Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga dan arah pasar saham global, termasuk Eropa.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: