Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tangkis Keraguan DPR, Bahlil: Capaian Lifting Minyak 2025 Bukan Omon-omon

Tangkis Keraguan DPR, Bahlil: Capaian Lifting Minyak 2025 Bukan Omon-omon Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan jawaban menukik, atas keraguan berbagai pihak mengenai capaian lifting minyak nasional tahun 2025, yang menembus 605,3 ribu barel per hari (BOPD).

Angka ini menjadi sorotan karena melampaui target APBN 2025, di tengah tren penurunan produksi minyak nasional dalam beberapa tahun terakhir.

Bahlil menegaskan, realisasi ini merupakan hasil dari strategi teknis yang terukur, sekaligus menepis tudingan angka tersebut hanyalah klaim sepihak.

"Di dalam APBN kita di 2024, lifting kita itu tidak mencapai target, bahkan cuma mencapai 585 ribu barel per day."

"Tapi dengan ramuan pertama pada tahun pertama, alhamdulillah lifting kita di 2025 mencapai target APBN sebesar 605 ribu barel per day."

"Jadi ini fakta lho, ini bukan omon-omon ini," tutur Bahlil dalam Kuliah Umum di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Baca Juga: Pertama di Jawa! Kilang Mini LNG Pasuruan Resmi Beroperasi, Investasi Rp247 M

Ketegangan ini bermula saat Anggota Komisi XII DPR Fraksi PDIP Cornelis, mempertanyakan perbedaan data antara Kementerian ESDM dengan pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Cornelis menilai ada ketidaksinkronan. Karena menurut Menkeu, lifting hanya bisa naik jika ada penambahan sumur baru.

"Menkeu bilang lifting itu bisa naik kalau ada penambahan sumur baru."

"Nah, ini apakah ada penelitian sumur baru?" Tanya Cornelis dalam rapat kerja sebelumnya.

Ia bahkan melontarkan kritik pedas terhadap gaya komunikasi Menteri ESDM.

"Kelihatannya Menteri ESDM hanya permainan kata-kata, permainan istilah... seolah-olah Menteri ESDM ya ada bohong-bohong sikit lah," cetusnya.

Menanggapi hal tersebut, Bahlil menjelaskan, peningkatan produksi tidak melulu bergantung pada penemuan cadangan baru (exploration), melainkan optimalisasi lapangan yang sudah ada.

Ia memaparkan strategi 'ilmu tekan menekan' terhadap Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), untuk mempercepat konstruksi pada sumur yang sudah memiliki Plan of Development (POD).

Bahlil mencontohkan kinerja ExxonMobil yang produksinya melonjak dari 140 ribu BOPD pada 2024, menjadi rata-rata 175 ribu BOPD pada 2025, setelah adanya intervensi komunikasi dari pemerintah.

"Rata-rata mereka ada 175 ribu barel per day."

"Jadi, enggak menemukan sumur baru, sumur lama."

"Kok ada salah satu anggota DPR dan salah satu menteri yang mengatakan bagaimana mungkin lifting naik sementara sumur besar belum ada."

Baca Juga: Petronas Tunjuk Medco Sebagai Operator PSC Cendramas

"Eh ini terlalu banyak baca buku nih," sindir Bahlil.

Bahlil meminta agar pencapaian sektor energi ini dilihat secara objektif dan tidak dipolitisasi.

Ia mencium adanya upaya penggiringan opini dari pihak-pihak yang sebelumnya gagal mengeksekusi kebijakan saat menjabat.

"Jangan dipolitisir gitu loh."

"Jangan ada partai A mengatakan ini datanya lain, padahal dulu dia yang jadi menterinya enggak jalan-jalan barang itu."

"Nah, itu kita harus objektif gitu dong."

"Waktu dikasih kewenangan, dikasih tugas, tidak dikerjakan, ada apa?"

"Ada konspirasi apa di situ?"

"Jangan orang Papua bilang tulis lain, baca lain, bikin lain."

"Nah ini ini fakta nih, bisa diuji," tegasnya.

Bahlil menutup penjelasannya dengan membongkar pola kerja KKKS yang cenderung menahan laju produksi, demi memperpanjang durasi bisnis mereka.

Namun, melalui reaktivasi sumur tua dan percepatan izin sumur masyarakat, pemerintah berhasil memaksa kenaikan volume produksi secara nasional.

"Mereka membuat pelan-pelan agar mereka mempunyai bisnis yang panjang, profitnya biar sedikit, yang penting panjang."

"Tapi kalau kita bilang kau naikin produksi, profitnya naik, waktunya pendek supaya panjang, kita kasih nilai kerja baru lagi, gitu loh," beber Bahlil. (*)

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus

Bagikan Artikel: