- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Ungkit Eks Menteri Hingga Grup Bayangan, Bahlil Jawab Kritik Target Lifting Minyak 2025
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia memberikan respons keras terhadap kritik yang menuding adanya manipulasi data di balik pencapaian target lifting minyak bumi tahun 2025 yang mencapai 605.300 barel per hari (bph) atau 100,05% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Capaian ini menuai polemik karena melibatkan komponen gas cair atau Natural Gas Liquid (NGL) di dalam lifting. Kendati NGL dalam nomenklaturnya tergolong minyak perhitungan semacam ini baru pertama dilakukan.
Baca Juga: Tangkis Keraguan DPR, Bahlil: Capaian Lifting Minyak 2025 Bukan Omon-omon
Berdasarkan dokumen SKK Migas, angka 605.300 bph tersebut nyatanya terdiri dari 582.000 bph minyak mentah dan 23.200 bph NGL.
Perubahan metode perhitungan ini memicu tudingan bahwa pemerintah "mempercantik" angka agar terlihat mencapai target untuk pertama kalinya sejak tahun 2016.
Bahlil: "Jangan Dipolitisir"
Menanggapi keraguan sejumlah pihak, termasuk Anggota Komisi XII DPR RI, Bahlil menegaskan bahwa angka tersebut adalah fakta lapangan hasil dari strategi atau "ramuan" yang ia jalankan.
"Di 2024 lifting kita cuma 540.000 bph. Tapi di 2025 kita capai target 605.000 bph. Ini fakta, jangan dipolitisir. Jangan ada partai A mengatakan datanya lain, padahal dulu dia jadi menterinya (proyek) enggak jalan-jalan," ujar Bahlil dalam kuliah umum di Jakarta, dikutip Minggu (15/2/2026).
Bahlil mengakui tidak ada penemuan blok minyak raksasa baru dalam waktu singkat. Namun, ia mengklaim kenaikan ini berasal dari beberapa langkah strategis yakni Intervensi Teknologi: Penggunaan Enhanced Oil Recovery (EOR) pada sumur tua, Reaktivasi Sumur Idle: Optimalisasi K3S: Menekan kontraktor seperti ExxonMobil untuk meningkatkan produksi di wilayah kerja yang sudah ada.
Polemik Perbedaan Data di Parlemen
Isu ini memanas setelah Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PDI-P, Cornelis, mempertanyakan konsistensi data pemerintah. Cornelis menyoroti pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut lifting hanya bisa naik signifikan jika ada penambahan sumur baru.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Aldi Ginastiar