Kredit Foto: Reuters/Lean Daval Jr
Wakil Presiden (Wapres) Filipina Sara Duterte pada Rabu (18/2) resmi mengumumkan dirinya akan maju sebagai calon presiden (capres) pada pemilihan umum (pemilu) 2028.
Sara Duterte, yang merupakan anak dari mantan presiden Filipina, Rodrigo Duterte menjadi orang pertama yang secara terbuka mengumumkan rencananya untuk maju sebagai capres Filipina.
Ia menyatakan kampanye pencalonannya akan berfokus pada penguatan keluarga, mendorong nilai-nilai berbasis kepercayaan, dan memastikan pemerintahan yang responsif.
Untuk diketahui, relasi politik antara Sara Duterte dan Ferdinand Marcos Jr.—yang akrab disapa Bongbong Marcos berawal dari aliansi elektoral yang sangat kuat, namun dalam waktu kurang dari tiga tahun berubah menjadi rivalitas terbuka di panggung politik Filipina.
Menjelang Pemilu 2022, peta politik Filipina diwarnai spekulasi soal kemungkinan Sara Duterte maju sebagai calon presiden, melanjutkan popularitas ayahnya, Presiden Rodrigo Duterte.
Baca Juga: Resolusi Filipina Dikecam Beijing, Ketegangan Laut China Selatan Makin Panas
Namun pada November 2021, ia memilih maju sebagai calon wakil presiden dan berpasangan dengan Bongbong Marcos dalam koalisi yang diberi nama "UniTeam".
Aliansi ini menyatukan dua dinasti politik besar Filipina: keluarga Marcos dari Luzon dan keluarga Duterte dari Mindanao. Strategi tersebut terbukti efektif. Dalam pemilu Mei 2022, pasangan ini menang telak.
Namun pada 2023, tanda-tanda ketegangan antar keduanya mulai terlihat pada 2023, misalnya, Marcos lebih condong ke Amerika Serikat, sementara Duterte lebih condong ke Tiongkok dan menjaga jarak dari Washington.
Tak hanya itu, Sara Duterte menghadapi kritik dan tekanan politik terkait penggunaan dana rahasia (confidential funds) di Kementerian Pendidikan dan Kantor Wakil Presiden. Di Kongres, sejumlah sekutu keluarga Duterte mulai kehilangan posisi strategis. Sementara itu, kekuatan politik yang dekat dengan keluarga Marcos semakin dominan.
Hubungan keduanya benar-benar memburuk pada 2024. Sara Duterte secara terbuka mengundurkan diri dari jabatan Menteri Pendidikan pada pertengahan tahun tersebut. Tak lama setelah itu, pernyataan-pernyataan keras mulai dilontarkan dari kedua kubu.
Ketegangan juga meluas ke konflik antara keluarga Marcos dan Duterte, termasuk saling serang di ruang publik dan media.
Presiden Marcos menegaskan komitmennya pada supremasi hukum, sementara kubu Duterte menuduh adanya manuver politik untuk melemahkan pengaruh mereka menjelang pemilu sela 2025.
Pecahnya aliansi “UniTeam” mengubah lanskap politik Filipina. Sara Duterte tetap memiliki basis dukungan kuat di Mindanao dan di kalangan loyalis ayahnya, sementara Marcos mengonsolidasikan kekuatan di Luzon dan wilayah lain.
Pemilu sela 2025 dipandang sebagai ajang uji kekuatan kedua kubu. Persaingan ini juga membuka kemungkinan konfigurasi baru menjelang Pemilu Presiden 2028, di mana Sara Duterte berpotensi mencalonkan diri sebagai presiden.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: