Tarif 0% ke AS Jadi ngin Segar Industri Tekstil dan Peluang Perluasan Pasar Global
Kredit Foto: Istimewa
Ia menambahkan pelaku industri tekstil nasional bersama pemerintah perlu memperkuat daya saing dan mendorong terciptanya ekosistem yang kondusif. Emiten yang memiliki ketergantungan tinggi pada pasar AS juga diminta mencermati fluktuasi permintaan global dan potensi perubahan kebijakan tarif di masa mendatang.
Di sisi lain, pengamat pasar modal Reydi Octa menilai kebijakan tarif 0% juga memberikan keuntungan bagi emiten sawit dari sisi kepastian akses pasar. Kejelasan kebijakan tersebut dinilai memberi ruang bagi pelaku usaha untuk mempertahankan pangsa pasar di tengah dinamika perdagangan global.
Meski demikian, ia menegaskan kebijakan tersebut bukan katalis utama yang secara langsung mendongkrak laba emiten sawit.
“Kinerja emiten sawit tetap lebih ditentukan oleh harga CPO global, kebijakan biodiesel, dan kurs rupiah,” ujarnya.
Sebelumnya, Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan untuk menurunkan tarif hingga 0% pada sejumlah produk Indonesia. Dalam dokumen agreement on reciprocal trade, tercantum 1.819 pos tarif yang memperoleh fasilitas bea masuk 0%.
Produk tersebut antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, serta komponen pesawat terbang. Khusus produk tekstil dan apparel, AS memberikan tarif 0% melalui mekanisme TRQ.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri