Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tenggat Negosiasi Korea Aerospace Industries Jadi Momentum Refleksi Kerja Sama Strategis Indonesia-Korea Selatan

Tenggat Negosiasi Korea Aerospace Industries Jadi Momentum Refleksi Kerja Sama Strategis Indonesia-Korea Selatan Kredit Foto: Kemenhan
Warta Ekonomi, Bandung -

Laporan Airspace Review pada 20 Februari 2026 kembali menyorot dinamika kerja sama pertahanan Indonesia-Korea Selatan. 

Sorotan ini muncul setelah Korea Aerospace Industries (KAI) menyampaikan target penyelesaian negosiasi akhir proyek jet tempur KF-21 Boramae bersama Indonesia paling lambat pertengahan 2026. 

Tenggat tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi bisnis global KAI sekaligus menjadi titik refleksi penting bagi arah keterlibatan Indonesia dalam program strategis tersebut.

Bagi KAI, kepastian negosiasi berkaitan erat dengan agenda ekspor dan pertumbuhan keuangan jangka panjang. Keberhasilan menjadikan KF-21 sebagai produk ekspor perdana akan memperkuat posisi perusahaan asal Korea Selatan itu di pasar global industri pertahanan. Dalam konteks ini, Indonesia tetap dipandang sebagai mitra penting yang memiliki rekam jejak panjang sejak fase awal pengembangan.

Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW), Iskandar Sitorus, menilai kabar tersebut perlu dibaca secara proporsional. Menurutnya, dinamika yang terjadi bukan semata soal teknologi atau relasi bilateral, melainkan cerminan tantangan tata kelola proyek strategis lintas negara yang menuntut kepastian fiskal dan koordinasi berkelanjutan.

“Ini bukan soal kegagalan teknologi, tetapi bagaimana negara memastikan komitmen fiskal dan koordinasi antarlembaga berjalan konsisten,” ujar Iskandar, Minggu (22/2/2026).

Ia menjelaskan, dalam industri pertahanan global, kesinambungan kontrak memiliki dampak langsung terhadap arus kas, valuasi perusahaan, dan reputasi proyek. Karena itu, setiap penyesuaian dalam skema kerja sama merupakan bagian dari realitas bisnis yang lazim terjadi, terutama ketika proyek berjalan lintas rezim pemerintahan dan menghadapi dinamika ekonomi global.

Kerja sama pengembangan KF-21 sendiri berawal dari optimisme tinggi pada periode 2010-2014, ketika Indonesia dan Korea Selatan menandatangani nota kesepahaman pada 15 Juli 2010. Visi awalnya adalah menjadikan Indonesia bukan sekadar pembeli, melainkan mitra pengembang dengan akses alih teknologi dan peluang penguatan industri pertahanan nasional.

Seiring perjalanan waktu, berbagai tantangan muncul, mulai dari penyesuaian fiskal hingga dampak pandemi COVID-19. Pada 2024, otoritas Korea Selatan melalui Defense Acquisition Program Administration menyetujui restrukturisasi kontribusi Indonesia. Langkah ini dipandang sebagai upaya menjaga keberlanjutan proyek agar tetap berjalan realistis bagi semua pihak.

Kesepakatan revisi kemudian ditegaskan pada Juni 2025 di ajang Indo Defence Expo & Forum, yang menandai babak baru kerja sama dengan peran Indonesia yang lebih terfokus. Dalam perkembangan terbaru, pada Januari 2026 Indonesia mengajukan proposal pembelian 16 unit KF-21 Block II melalui fasilitas kredit ekspor Export-Import Bank of Korea, sebuah skema yang dinilai pragmatis untuk memperkuat kesiapan alutsista TNI AU.

Iskandar menilai pendekatan restrukturisasi tersebut sebagai langkah pengendalian risiko yang rasional. 

“Daripada membiarkan ketidakpastian berlarut, restrukturisasi justru memberi ruang bagi pengambilan keputusan yang lebih terukur dan akuntabel,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengalaman KF-21 dapat menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia dalam mengelola proyek strategis jangka panjang. Pembentukan lembaga pengelola terpadu, penganggaran multi-tahun yang terlindungi regulasi, serta audit prakontrak dinilai penting agar komitmen nasional tidak terpengaruh dinamika politik tahunan.

Baca Juga: Hore! Belanja di Korea Selatan Bisa Pakai QRIS Mulai April 2026

Di tengah percepatan modernisasi pertahanan di kawasan Asia Tenggara, tenggat negosiasi dari KAI menjadi pengingat bahwa keputusan strategis perlu diambil secara tepat waktu. Yang dipertaruhkan bukan semata jumlah pesawat, melainkan konsistensi Indonesia sebagai mitra yang kredibel dan adaptif di mata komunitas internasional.

“Pelajaran dari KF-21 memang mahal, tetapi jika mampu mendorong pembenahan tata kelola secara menyeluruh, maka pengalaman ini akan menjadi fondasi kuat bagi proyek strategis pertahanan Indonesia di masa depan,” pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: