- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Di Depan Purbaya, Inpex Masela Sebut Keekonomian Proyek LNG Abadi Sangat Marginal
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Raksasa migas asal Jepang, Inpex Masela Ltd, blak-blakan menyebut proyek LNG Abadi di Blok Masela kini berada dalam kondisi keekonomian yang sangat ketat.
Project Director Inpex Masela Jarrad Blinco mengakui proyek strategis nasional (PSN) tersebut berstatus 'sangat marginal,' akibat hantaman inflasi global dan sengitnya persaingan pasar LNG dunia, yang kian mempersempit ruang gerak ekonomi perusahaan.
“Secara internasional, proyek ini tergolong marginal."
"Sangat marginal,” ujar Jarrad dalam rapat debottlenecking investasi LNG Blok Masela bersama Kementerian Keuangan di Jakarta, Selasa (24/2/2026).
Proyek Masela ditaksir membutuhkan belanja modal (capital expenditure) lebih dari US$20 miliar.
Namun, Jarrad memperingatkan, tekanan biaya global berpotensi mendorong angka tersebut lebih tinggi, yang pada akhirnya mengancam kelayakan investasi dan keputusan investasi akhir (Final Investment Decision/FID).
Blok Masela dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun, kondensat 35.000 barel per hari, serta alokasi gas domestik sebesar 150 MMscfd.
Rivalitas dengan AS dan Timur Tengah
Jarrad menegaskan, tantangan Masela tidak hanya datang dari internal, tetapi juga persaingan global yang agresif.
Masela harus berebut ruang dengan proyek-proyek di Amerika Serikat dan Timur Tengah, yang menawarkan struktur biaya lebih kompetitif.
“Kami bersaing dengan proyek di AS dan Timur Tengah, untuk mendapatkan kontraktor serta pemasok."
"Ini adalah proyek berskala dunia,” ungkapnya.
Saat ini, proyek masih dalam tahap Front End Engineering Design (FEED) yang ditargetkan rampung tahun ini, sebelum berlanjut ke tahap tender EPC dan penetapan FID.
Jarrad menekankan, kepastian regulasi adalah kunci.
“Kami memerlukan dukungan pemerintah, terutama dalam sinkronisasi dan penyederhanaan izin,” tambahnya.
Pemerintah Janjikan Akselerasi
Menanggapi keluhan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya menyatakan pemerintah berkomitmen menyisir hambatan yang ada.
“Kami akan mengidentifikasi jika masih ada gangguan. Jika ada, kita percepat prosesnya agar hambatan itu hilang,” tegas Purbaya.
Terkait pembaruan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang kini mencakup skema Carbon Capture and Storage (CCS), pemerintah menargetkan penyelesaian maksimal dalam tiga bulan, jauh lebih cepat dari durasi normal yang mencapai enam bulan.
Di sisi komersial, meskipun ada minat dari PGN, PLN, dan Pupuk Indonesia, Inpex menegaskan pembeli internasional tetap menjadi tulang punggung pembiayaan.
“Untuk proyek sebesar ini, kami tetap memerlukan offtaker internasional guna menjamin pendanaan,” jelas perwakilan Inpex.
Baca Juga: Lama Mangkrak, Purbaya Dorong Percepatan Proyek LNG Abadi Masela
Dengan tingginya struktur biaya dan penambahan teknologi CCS, posisi Blok Masela kini sangat sensitif terhadap eskalasi biaya dan keterlambatan birokrasi.
Keputusan FID mendatang akan menjadi penentu, apakah mega proyek ini akan melaju ke tahap konstruksi, atau kembali tertunda oleh tekanan ekonomi global. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: