Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Abdul Mu’ti: Kerukunan dan Dua Kebahagiaan di Bulan Ramadan

Abdul Mu’ti: Kerukunan dan Dua Kebahagiaan di Bulan Ramadan Kredit Foto: Twitter/Abdul Muti
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ramadan tidak hanya sebagai bagian dari beribadah kepada Allah, tapi juga bagian dari membangun kerukunan, membangun persatuan, khususnya ukhuwah Islamiah, persatuan bangsa, atau ukhuwah wathaniah.

Ramadan menjadi momentum untuk menjadi lebih baik secara bersama-sama, berusaha sebaik mungkin dapat mengisinya dengan berbagai amalan ibadah sesuai dengan yang disyariatkan.

Ajakan itu disampaikan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, saat memberikan kuliah tarawih di Masjid Al Falah, Bendungan Hilir, Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (23/2/26).

Lebih lanjut, Mu'ti menjelaskan berbagai fadhilah Ramadan, antara lain sering disebut dengan syahrul maghfirah atau bulan ampunan, seperti diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda,

Man shāma ramadhāna īmānan wahtisāban ghufira lahu mā taqaddama min dzanbih.”.
(Barang siapa yang menunaikan puasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu, HR. Bukhari No. 2014).

Karena itu pula dianjurkan memperbanyak istigfar, memperbanyak membaca doa yang disyariatkan, di antaranya,

Allāhumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'annī”.
(Ya Allah, Engkau adalah Tuhan Yang Maha Memaafkan lagi Maha Mengampuni, Engkau mencintai mereka yang meminta maaf, maka ampunilah dosa kami).

Selain itu, Ramadan juga disebut sebagai syahrush shiyām. Di dalamnya diwajibkan menunaikan puasa Ramadan meskipun berat, seperti ditegaskan dalam Al-Baqarah ayat 184,

"...Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya. Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

Menurut Mu’ti, puasa menjadi terasa lebih ringan karena selain menunaikannya dengan penuh keikhlasan, juga karena dilakukan secara bersama-sama.

Banyak hal ternyata pelaksanaan ibadah itu sebagian ditentukan oleh lingkungan sosial. Dalam teori sosiologi agama, hal ini disebut dengan kesalehan sosial atau kesalehan yang berasal dari lingkungan di mana berada. Suasana puasa memberikan dorongan spiritual dan kekuatan mental untuk dapat mengatasi berbagai aral dan kesulitan.

“Di tempat kerja, semua teman berpuasa, kita akan memiliki semangat untuk berpuasa. Begitu pula dalam keluarga, semuanya berpuasa, maka semangat kita berpuasa menjadi semakin kuat,” Mu’ti mencontohkan.

Ramadan juga sering disebut sebagai syahrul Qur'an. Bulan Al-Qur'an, menurut Mu’ti, bermakna dua. Pertama, makna dalam pandangan sejarah karena Al-Qur'an diturunkan di bulan Ramadan. Pemahaman itu merujuk pada surah Al-Baqarah ayat 185.

Syahru ramadānal-ladzī unzila fīhil-qur'ānu hudal lin-nāsi wa bayyinātim minal-hudā wal-furqān(i).”
(Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).

Al-Qur'an turun pertama kali pada bulan Ramadan tanggal 17, yang seringkali diperingati sebagai Nuzulul Qur'an. Secara nubuwwah, menjadi pertanda diangkatnya Muhammad sebagai Rasulullah.

Kedua, syahrul Qur'ān bulan di dalamnya memperbanyak membaca Al-Qur'an. Kita memperbanyak membaca Al-Qur'an. Rasulullah Muhammad pada bulan Ramadan itu senantiasa tadarus dengan Jibril, yang kemudian menjadi tradisi melaksanakan tadarus Al-Qur'an.

Menurut Mu’ti, memperbanyak itu lebih ditekankan pada frekuensinya daripada jumlahnya. Dengan demikian, membaca Al-Qur'an akan lebih memberikan pengaruh secara spiritual apabila membacanya dengan tartil. Dalam Al-Qur'an disebutkan,

Wa rattilil-qur'āna tartīlā.”
(Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil, QS. Al-Muzammil: 4).

“Banyak membaca Al-Qur'an dengan pelan-pelan, dengan penuh penghayatan dan penuh harapan agar mendapatkan hidayat dan mendapatkan kebaikan dalam kehidupan kita,” jelas Mu’ti.

Kemuliaan lain Ramadan juga sering disebut sebagai syahrush shadaqah, bulan yang di dalamnya banyak bersedekah. Dalam hadis qudsi, disebutkan Rasulullah Muhammad adalah manusia yang paling dermawan. Kedermawanan Nabi semakin meningkat di bulan Ramadan.

Ramadan juga menjadi syahrul ukhuwah, bulan persaudaraan. Di dalamnya banyak sekali dilaksanakan kegiatan sosial. Buka bersama, menurut Mu’ti, awalnya dari pengamalan terhadap hadis Nabi yang menjelaskan, “Barang siapa yang memberi makan orang yang berbuka, dia mendapatkan pahala sama dengan mereka yang berbuka tanpa mengurangi pahala."

Tradisi buka bersama di Indonesia diikuti oleh masyarakat berbagai agama, yang berpuasa maupun tidak berpuasa. Mu’ti berpandangan, itu menunjukkan betapa rahmat dari pengamalan ajaran Islam dirayakan oleh semua kalangan masyarakat, apa pun agamanya. “Bahkan buka bersama itu menjadi momen di mana semua orang bahagia,” ucapnya.

Hadis Nabi menyebutkan,

“Lish-shā'imi farhatāni yafra-humā: idzā afthara fariha bifithrihī, wa idzā laqiya rabbahū fariha bishawmihī.”
(Bagi orang yang berpuasa akan meraih dua kegembiraan: kegembiraan ketika berbuka puasa, dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya, HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga: Bulog Pastikan Stok dan Harga Bahan Pokok Stabil Selama Ramadan

Dua Kebahagiaan

Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kebahagiaan. Pertama, bahagia ketika berbuka. Ketika sedang berbuka itu sebenarnya bahagia. Kemudian, kebahagiaan yang kedua adalah ketika nanti di hari akhir, bertemu Allah di surga.

Karena itu, Ramadan menjadi bulan persatuan, bulan kerukunan, syahrul ukhuwah. “Saya kira kalau berbuka bersama itu tidak ada pertanyaan, misalnya kelompok rukyat atau hisab, itu tidak ada perdebatan siapa yang berbuka duluan, semuanya sama,” seloroh Mu’ti mengundang tawa jamaah.

Di Masjid Al Falah, Abdul Mu’ti menyaksikan lomba anak-anak mewarnai gambar masjid dan meresmikan Kantor Layanan Lazis Muhammadiyah, dilanjutkan buka bersama. Usai salat tarawih, Abdul Mu’ti dikerumuni murid-murid yang antre minta tanda tangan tugas sekolah dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.

Usai salat tarawih, Mendikdasmen menandatangani tugas-tugas Ramadan siswa di Masjid Al Falah, Bendungan Hilir, Sudirman, Jakarta Pusat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Bagikan Artikel: