Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Eco-Enzyme: Peluang Usaha Ramah Lingkungan dari Limbah Dapur

Eco-Enzyme: Peluang Usaha Ramah Lingkungan dari Limbah Dapur Kredit Foto: BRI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Isu pengelolaan sampah organik masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Di tengah dorongan menuju ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan, inovasi sederhana seperti eco-enzyme mulai dilirik sebagai solusi berbasis masyarakat yang memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomis.

Eco-enzyme merupakan hasil fermentasi limbah organik rumah tangga seperti kulit buah dan sayuran dengan tambahan gula alami dan air dalam wadah tertutup selama kurang lebih 90 hari. Proses ini menghasilkan cairan berwarna cokelat jingga dengan aroma asam segar.

“Kami berharap ke depan eco enzyme ini bisa terus digaungkan dan dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan yang bermanfaat bagi Indonesia,” ujar Bambang Patijaya, Ketua Komisi XII DPR RI dikutip dari laman resmi JDIH DPR RI, Rabu (25/2/2026).

Secara fungsional, eco-enzyme memiliki berbagai aplikasi:

  • Rumah tangga: sebagai pembersih alami lantai, dapur, kamar mandi, serta penghilang bau saluran air dan tempat sampah.
  • Pertanian: pupuk cair organik dan pestisida nabati ramah lingkungan.
  • Pengolahan limbah cair skala kecil: membantu mengurangi bau dan mempercepat proses biologis penguraian bahan organik.

Proses pembuatan eco-enzyme relatif mudah. Limbah organik dipotong kecil-kecil lalu dicampur dengan gula alami (molase atau gula merah) dan air dengan perbandingan 3:1:10.

Campuran difermentasi selama 90 hari dalam wadah tertutup yang hanya diisi 60-70% untuk memberi ruang gas hasil fermentasi.

Indikator keberhasilan fermentasi ditandai dengan aroma alkohol pada bulan pertama dan aroma asam segar pada bulan berikutnya, dengan standar pH sekitar 4. Jika tercium bau busuk atau muncul jamur dan belatung, itu berarti proses fermentasi tidak berjalan dengan baik.

Meski sederhana, proses ini mencerminkan prinsip dasar industri bioteknologi skala rumah tangga, yaitu pemanfaatan mikroorganisme untuk menghasilkan produk bernilai tambah.

Potensi Ekonomi dan Tantangan

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk ramah lingkungan, eco-enzyme memiliki peluang pasar yang cukup terbuka. Produk pembersih alami dan pupuk organik kini semakin diminati, terutama oleh konsumen urban yang peduli keberlanjutan.

Namun demikian, tantangan tetap ada. Standarisasi kualitas, edukasi masyarakat, serta keamanan penggunaan perlu diperhatikan agar produk yang beredar tetap memenuhi aspek kesehatan dan lingkungan.

Dengan dukungan edukasi dan pemberitaan yang konstruktif, eco-enzyme berpotensi menjadi gerakan ekonomi hijau berbasis komunitas. Di era transisi menuju ekonomi rendah karbon, inovasi sederhana seperti ini membuktikan bahwa solusi keberlanjutan tidak selalu harus mahal dan kompleks.

Dalam satu kali produksi skala rumah tangga dapat dihasilkan sekitar 10 liter eco-enzyme. Biaya produksi yang diperlukan relatif rendah, yaitu sekitar Rp60.000, yang mencakup kebutuhan bahan seperti gula merah atau molase sekitar 1 kg, air bersih, botol kemasan, serta biaya pendukung lainnya.

Baca Juga: Jakarta Belum Punya Lahan PSEL? Begini Rencana Menko Pangan Atasi 9.000 Ton Sampah Ibu Kota

Jika eco-enzyme dikemas dalam botol ukuran 1 liter dan dijual dengan harga Rp20.000 per liter, maka total pendapatan yang dapat diperoleh dari 10 liter eco-enzyme adalah sebesar Rp200.000. Dengan demikian, potensi keuntungan yang dapat diperoleh dalam satu kali produksi adalah sekitar Rp140.000.

Dengan biaya produksi yang relatif rendah dan proses pembuatan yang sederhana, eco-enzyme berpotensi menjadi usaha mikro yang dapat dikembangkan oleh masyarakat sebagai sumber penghasilan tambahan sekaligus solusi pengelolaan limbah rumah tangga.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: