Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sarulla Targetkan Pengeboran Baru, Ekspansi 1.000 MW Tunggu Kepastian Tarif

Sarulla Targetkan Pengeboran Baru, Ekspansi 1.000 MW Tunggu Kepastian Tarif Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Sarulla Operation Limited menyiapkan langkah pengembangan lanjutan proyek panas bumi Sarulla di Tapanuli Utara, dengan memulai proses pengeboran baru tahun ini.

Manajemen menargetkan persetujuan (approval) rampung dalam waktu dekat, agar aktivitas pengeboran bisa dimulai paling lambat pertengahan tahun.

Chief Operating Officer Sarulla Operation Limited Riza Pasikki mengatakan, saat ini perseroan masih dalam tahap menunggu persetujuan sebelum masuk fase pengeboran.

“Tahun ini kita masih berfokus untuk kita akan melakukan proses pengeboran."

"Sekarang masih dalam proses approval, mudah-mudahan approval ini kita bisa mendapatkan di Bulan Februari."

"Sehingga paling lambat di Bulan Juli kita bisa mulai lakukan proses pengeboran,” ujarnya dalam bincang Meet the Leaders bersama Warta Ekonomi, dikutip pada Senin (2/3/2026).

Sarulla saat ini mengoperasikan pembangkit panas bumi berkapasitas total 330 megawatt (MW), yang terdiri dari tiga unit masing-masing 110 MW.

Proyek tersebut berlokasi di Tapanuli Utara, Sumatra Utara.

“Lapangan Sarula ini sendiri saat ini kita sudah mengoperasikan tiga kali 110 megawatt."

"Jadi total install kapasitasnya 330 megawatt yang berlokasi di Tapanuli Utara,” ungkap Riza.

Secara konsesi, Sarulla disebut sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia.

Dari sisi potensi sumber daya (resource), lapangan ini dinilai masih memiliki ruang pengembangan yang signifikan.

“Secara konsensi, Sarula ini paling besar di Indonesia."

"Jadi secara resource potensial itu bisa sekitar 1.000 megawatt. walaupun memang yang kita baru kembangkan 330 megawatt," tambahnya. 

Riza menegaskan, pengeboran tahun ini menjadi penentu arah ekspansi berikutnya.

Jika hasilnya positif, perseroan membuka peluang memperluas kapasitas terpasang.

Meski demikian, pengembangan hingga mendekati potensi 1.000 MW tetap bergantung pada aspek keekonomian proyek.

Menurut dia, keputusan ekspansi tidak bisa dilepaskan dari struktur tarif yang berlaku saat ini.

“Untuk kita mengembangkan sampai 1000 MW tentunya kan balik lagi, investor ekonomi apa enggak nih?” Ucapnya.

Ia menilai skema harga patokan tertinggi (HPT) sebagaimana diatur dalam Perpres 112/2022, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kelayakan investasi.

Manajemen berharap adanya penyesuaian kebijakan yang dapat memperbaiki keekonomian proyek, sehingga mendorong realisasi ekspansi.

Dari sisi pasar, Sarulla melihat prospek permintaan listrik di Sumatra masih terbuka, seiring pertumbuhan kebutuhan dan peningkatan porsi energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi.

“Apalagi demand di Sumatra juga bagus, dan juga enggak cuma dari sisi demand-nya yang growth, tapi kan juga porsi dari EBT-nya terus digenjot," jabarnya

Riza menilai Sarulla memiliki kualitas sumber daya yang kompetitif di tingkat global.

Namun, realisasi pengembangan lanjutan tetap akan mempertimbangkan faktor ekonomi dan kepastian kebijakan.

Baca Juga:

“Saya yakin lah, Sarulla ini salah satu resource yang terbaik di dunia," cetusnya.

Dengan kapasitas terpasang 330 MW dan potensi hingga sekitar 1.000 MW, proyek Sarulla menjadi salah satu kandidat utama ekspansi panas bumi di Sumatra, bergantung pada hasil pengeboran tahun ini dan perkembangan kebijakan tarif ke depan. (*)

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus

Bagikan Artikel: