Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok ke level 8.092,90 pada perdagangan Senin (2/3/2026) di tengah memanasnya konflik AS-Iran. Berdasarkan data RTI pada pukul 09.01 WIB, IHSG semakin loyo dengan koreksi 170,53 poin atau -2,07% ke 8.064,94.
Pergerakan saham pada awal perdagangan hari ini didominasi tren negatif. Sebanyak 588 saham melemah, hanya 54 saham yang menguat dan 75 saham lainnya stagnan.
Per pagi hari ini, IHSG sudah mencatatkan volume perdagangan 1,56 miliar lembar saham dengan frekuensi 144.998 kali. Adapun nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp1,02 triliun.
PT Ifishdeco Tbk (IFSH) menjadi saham top losers dengan penurunan tajam -14,8% ke level Rp1.525. Diikuti PT Sekar Bumi Tbk (SKBM) yang ambruk -14,77% ke Rp750 dan PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) yang merosot -14,68% ke Rp1.075.
Di jajaran top gainers ada PT Indo Oil Perkasa Tbk (OILS) yang meroket 28,57% ke Rp252, PT Elnusa Tbk (ELSA) yang terbang 17,65% ke Rp1.000 dan PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) yang melejit 13,46% ke Rp236.
Baca Juga: Dibayangi Konflik AS-Iran, Begini Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham Hari Ini
Baca Juga: Perang AS-Iran Tekan Pasar Modal, IHSG Rawan Koreksi
Sejumlah analis menilai pergerakan IHSG hari ini akan sangat dipengaruhi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, yang mendorong pelaku pasar mengambil sikap risk-off. Pasar diperkirakan merespons kenaikan harga minyak mentah, serta penguatan emas dan dolar AS sebagai aset safe haven.
Meski demikian, tekanan terhadap indeks berpotensi tertahan oleh saham-saham berbasis komoditas yang selama ini menjadi penopang utama IHSG.
Secara teknikal, posisi indeks sudah mendekati area oversold, sehingga membuka peluang terjadinya technical rebound menuju MA50 di atas level 8.400. Adapun level support terdekat berada di kisaran 8.100 hingga area psikologis 8.000.
Sementara itu, analis Korea Investment & Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG akan bergerak terbatas pada rentang 8.000–8.300, seiring tekanan geopolitik akibat serangan AS dan Israel ke Iran serta sikap wait and see investor menjelang rilis data inflasi dan PMI Manufaktur domestik.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: