Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Konflik AS-Israel-Iran Ancam 20 Persen Pasokan Minyak Dunia

Konflik AS-Israel-Iran Ancam 20 Persen Pasokan Minyak Dunia Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga memicu kekhawatiran serius di pasar energi global. Salah satu titik krusial yang menjadi sorotan adalah potensi penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dan gas dunia.

Kementerian Luar Negeri Rusia pada Minggu (1/3/2026) menyampaikan bahwa gangguan navigasi di selat tersebut dapat menciptakan ketidakseimbangan besar dalam pasar minyak dan gas internasional. Moskow menilai situasi ini berisiko memperparah volatilitas harga energi global.

Selat Hormuz merupakan jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap hari. Minyak dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, dan Iran melintas di perairan sempit tersebut sebelum menuju pasar Asia, Eropa, dan Amerika.

Selain minyak mentah, volume besar gas alam cair dari Qatar juga dikirim melalui rute yang sama. Gangguan terhadap arus pelayaran di kawasan itu berpotensi memengaruhi rantai pasok energi global secara langsung.

Sumber perdagangan internasional pada Sabtu menyebut sejumlah pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar, dan perusahaan perdagangan energi telah menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, serta gas alam cair melalui Selat Hormuz.

Langkah itu diambil setelah Amerika Serikat, Israel, dan Teheran menyatakan bahwa navigasi di kawasan tersebut telah ditutup.

Keputusan menahan kapal di pelabuhan atau menunda pelayaran mencerminkan tingginya risiko keamanan di perairan tersebut. Operator kapal juga mempertimbangkan lonjakan premi asuransi akibat eskalasi konflik.

Ketegangan meningkat tajam setelah rangkaian serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap target di Iran, termasuk wilayah strategis di sekitar Teheran. Konflik tersebut kemudian disertai laporan wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang diumumkan oleh media pemerintah Iran.

Kematian Khamenei menjadi titik balik dalam dinamika politik Iran sekaligus memicu reaksi internasional. Rusia termasuk negara yang secara terbuka menyampaikan sikapnya terhadap peristiwa tersebut.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa berita tentang pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, anggota keluarganya, serta sejumlah pejabat tinggi Iran disambut dengan rasa kesal dan sangat disesalkan di Moskow. Pernyataan itu menunjukkan sensitivitas geopolitik yang menyertai perubahan kepemimpinan di Teheran.

Dalam pernyataan resminya, Moskow menyampaikan kecaman keras terhadap praktik yang dinilai melanggar hukum internasional. Rusia menegaskan bahwa tindakan semacam itu tidak sejalan dengan norma hubungan antarnegara yang beradab.

“Federasi Rusia dengan tegas dan konsisten mengutuk praktik pembunuhan secara politik dan ‘perburuan’ terhadap pemimpin negara berdaulat, yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar hubungan antarnegara yang beradab dan secara serius melanggar hukum internasional,” tulis  Kementerian Luar Negeri Rusia.

Moskow juga menyerukan de-eskalasi segera serta penghentian pertempuran. Rusia menilai solusi politik dan diplomatik harus kembali dikedepankan untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap stabilitas global.

Posisi Rusia menjadi penting mengingat hubungan strategisnya dengan Iran dalam berbagai isu regional. Namun, Kremlin sejauh ini terlihat berhati-hati dalam merespons dinamika terbaru, termasuk perubahan kepemimpinan di Teheran.

Baca Juga: Intelijen Amerika Serikat (AS) Ragu Bisa Ganti Rezim Khamenei Cs di Iran

Penutupan Selat Hormuz dalam jangka panjang dapat berdampak langsung pada harga minyak dunia dan stabilitas ekonomi global. Negara-negara pengimpor energi besar diperkirakan akan merasakan tekanan inflasi apabila pasokan terganggu secara signifikan.

Situasi ini menempatkan kawasan Teluk dalam pengawasan ketat pasar internasional. Arah konflik serta keputusan terkait keamanan jalur pelayaran akan menentukan bagaimana peta energi global bergerak dalam beberapa pekan ke depan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: