Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Perang AS–Iran, Rupiah Tertekan Lonjakan Harga Minyak

Perang AS–Iran, Rupiah Tertekan Lonjakan Harga Minyak Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar
Warta Ekonomi, Jakarta -

Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran memicu pelemahan nilai tukar rupiah seiring lonjakan harga minyak dunia. Pada perdagangan Senin (2/3/2026), rupiah dibuka melemah 0,38 persen ke level Rp16.834 per dolar Amerika Serikat (AS).

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa serangan Amerika Serikat ke Iran menekan rupiah melalui dua jalur utama. Pertama, meningkatnya ketidakpastian global mendorong peralihan dana ke aset safe havensehingga dolar AS menguat secara luas. Kedua, risiko gangguan pasokan energi memicu lonjakan harga minyak dunia.

“Terlihat dari penguatan dolar pada perdagangan awal Asia ketika konflik meningkat, dan pada saat yang sama risiko gangguan pasokan energi mendorong lonjakan harga minyak dunia,” kata Josua kepada Warta Ekonomi di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Harga minyak sempat melonjak hingga 13 persen ke kisaran US$82 per barel pada awal perdagangan hari ini, sebelum diperdagangkan di sekitar US$77 per barel.

Menurut Josua, Indonesia sebagai negara importir bersih minyak menghadapi tekanan tambahan akibat kenaikan harga minyak yang memperbesar biaya impor, memperburuk defisit migas, dan pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah.

Ia menuturkan, pelemahan rupiah tidak selalu berlanjut jika konflik dapat segera terkendali. Pada fase tertentu, pasar cenderung menilai dampak konflik masih terbatas dan pergerakan aset selain energi relatif terkendali.

Namun, apabila eskalasi berlangsung berkepanjangan dan jalur pelayaran Selat Hormuz terganggu, tekanan terhadap rupiah berpotensi lebih dalam dan bertahan lebih lama. Data pelayaran menunjukkan arus kapal pengangkut minyak nyaris terhenti.

“Kenaikan biaya asuransi serta pengalihan rute dapat memperketat pasokan sekaligus menambah dorongan inflasi,” tuturnya.

Dalam skenario blokade berkepanjangan, harga minyak berpotensi menembus US$100 per barel dengan rata-rata minyak mentah Brent berada di kisaran US$85 per barel, sehingga risiko pelemahan rupiah semakin meningkat.

Baca Juga: Konflik AS-Iran Picu Risk Off, Rupiah dan IHSG Tertekan

Baca Juga: BI Jaga Rupiah di Tengah Konflik AS-Iran dan Gejolak Pasar Global

Baca Juga: IHSG Hari Ini Senin (2/3) Dibuka Anjlok 2% Terimbas Perang AS-Iran

Josua menambahkan, pembelajaran dari ketegangan geopolitik sebelumnya menunjukkan rupiah cenderung melemah terhadap dolar AS dan tekanan dapat membesar apabila konflik berlarut-larut.

“Jadi, benar rupiah berisiko melemah, tetapi apakah akan semakin melemah secara berkelanjutan sangat ditentukan oleh durasi eskalasi, kondisi pengiriman energi di Hormuz, serta respons stabilisasi dari otoritas domestik,” jelasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: