Pengaruh Asing Dinilai Menguat, Komunitas Tionghoa Imbau Kedepankan Keindonesiaan
Kredit Foto: Istimewa
Ketika proses di atas terjadi dalam sejarah Indonesia, munculah kelompok peranakan. Meski demikian, menurut Julan, pembahasan mengenai identitas ini menjadi semakin kompleks, karena arus kedatangan Tionghoa ke Indonesia tidaklah sama.
“Ada sekelompok Tionghoa yang telah hadir lebih awal, misalnya di daerah Banten, lalu mengadopsi agama Islam, dan berbaur dengan masyarakat setempat sehingga keberadaannya tak dapat ditelusuri kembali,” papar Julan
Kompleksitas di atas memunculkan keberagaman di kalangan Tionghoa sendiri, namun menurut beliau, keberagaman itu terkait erat dengan tindakan memilih.
“Ada yang disebut sebagai kelompok totok. Mereka memiliki orientasi lebih besar terhadap Tiongkok karena bisa Bahasa Mandarin. Namun ada juga yang kemudian menyebut diri sebagai peranakan, dan merasa makin jauh dari hal-hal berbau Tiongkok,” jelas Julan seraya menambahkan bahwa itu semua terkait pilihan.
Dalam konteks itulah, Thung Julan mengingatkan agar Tionghoa sebagai kelompok dapat membuat pilihan secara bijaksana. Dalam hubungan dengan Tiongkok, menurutnya Tionghoa harus memandang posisinya sebagai Indonesia, alih-alih sebagai bagian dari Tiongkok.
Dalam pandangan Budiman Tanah Djaja, Identitas Tionghoa dalam bingkai budaya Indonesia bersifat dinamis dan progresif. Menurutnya, pemaknaan setiap generasi terhadap identitas ketionghoaannya juga tak sama. Bagi generasi yang lahir dan tumbuh dewasa sebelum atau semasa pemerintahan Orde Baru, identitas ketionghoaan masih dibayangi dengan represi, trauma, dan beban sejarah.
Namun bagi generasi muda yang lahir atau menjadi dewasa setelah Reformasi 1998, sebuah era yang diwarnai dengan kebebasan, identitas Tionghoa menjadi lebih cair. Apalagi dalam dasawarsa terakhir ini globalisasi makin menguat, seiring dengan munculnya era media sosial.
Dalam konteks itulah Budiman memahami munculnya istilah Chindo (Chinese Indonesia) sebagai upaya memaknai identitas di kalangan generasi muda. Budiman berpesan agar generasi yang lebih tua mengambil peran sebagai pengarah, agar Tionghoa Indonesia di generasi berikut tidak melupakan sejarah yang pahit yang telah dialami oleh kaum Tionghoa di Indonesia, sebagai konteks penting dalam membangun identitas Tionghoa dalam bingkai Keindonesiaan.
Baca Juga: Plaza Asia Rayakan Imlek 2577, Sajikan Perpaduan Budaya Tionghoa-Betawi di Sudirman
Christine Susanna Tjhin memulai pembahasan mengenai ketionghoaan dengan mendiskusikan sudut pandang masyarakat di Tiongkok. Menurutnya, baik kelompok intelektual, pejabat dan masyarakat lain di Tiongkok memaknai orang-orang asal Tiongkok yang bermigrasi keluar Tiongkok dengan tiga istilah yang berbeda, yaitu Huayi, Huaren, dan Huaqiao.
Menurutnya, huayi dan huaren memiliki kesamaan, yaitu kedua kategori ini bukan warga negara Tiongkok. “Ini karena Tiongkok tidak mengakui kewarganegaraan ganda, sehingga orang asal Tiongkok yang telah menjadi warga negara dari negara lain, secara otomatis kehilangan kewarganegaraan Tiongkoknya,” jelas Christine.
Sedangkan Huaqiao biasanya masih memegang paspor Tiongkok. Lebih lanjut Christine menjelaskan bahwa pemahaman mengenai ketionghoaan dapat ditinjau dari berbagai aspek, salah satunya adalah aspek budaya, yang mengaitkan ketionghoaan dengan ajaran Konfusius. Aspek lainnya adalah aspek politik, yaitu memandang ketionghoaan dari sudut pandang identitas politik, yang sebenarnya baru muncul di akhir era dinasti Qing, namun terus berlanjut hingga saat ini.
Menurut Christine, aspek politik tersebut turut menyertai arus migrasi orang-orang asal dataran Tiongkok ke negara-negara lain, termasuk Indonesia, sehingga muncullah istilah ‘pendatang baru,’ yaitu para pendatang yang lahir di Tiongkok dan keturunan generasi pertama dari para pendatang tersebut.
Namun, seperti dijelaskan Christine, dalam tahun-tahun belakangan, sejalan dengan investasi Tiongkok ke luar negeri, termasuk Indonesia, muncul kategori baru, yaitu ‘pendatang baru’ yang baru.
Dalam kaitan ini muncul pembahasan dari kategori etnik atau ras dan diaporik, yang dalam pandangan Christine bersifat sangat kompleks. Oleh karenanya, bagi Christine, relevansi dualisme antara totok dan peranakan, yang pernah muncul pada masa-masa yang lalu, perlu untuk dipertanyakan lagi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: