Bocoran Intel China Soal Jalan Negosiasi Kedua Iran dan Amerika: Jauh Lebih Alot
Kredit Foto: Istimewa
China membocorkan bahwa jalan menuju perdamaian permanen antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih akan penuh tantangan. Beijing menilai fase lanjutan negosiasi kedua negara justru akan jauh lebih sulit dibanding tahap awal yang menghasilkan nota kesepahaman damai.
Peringatan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dalam pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar menjelang penandatanganan nota kesepahaman AS-Iran di Swiss.
Baca Juga: Media Israel Bocorkan Isi Perjanjian Damai Iran-Amerika, Pantas Netanyahu Sampai Geram
"Dapat diperkirakan bahwa dibandingkan dengan tahap pertama, tahap kedua negosiasi akan lebih sulit," kata Wang Yi, dikutip dari AFP, Kamis (18/6/2026).
Menurut Wang, kesepakatan yang telah dicapai saat ini belum dapat dianggap sebagai akhir dari konflik, melainkan baru menjadi titik awal bagi pembahasan yang lebih kompleks.
"Konsensus saat ini masih jauh dari tujuan akhir, melainkan merupakan titik awal yang baru," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa mewujudkan perdamaian abadi di Timur Tengah dan kawasan Teluk masih membutuhkan upaya berkelanjutan dari seluruh pihak.
"Mencapai perdamaian abadi di Timur Tengah dan kawasan Teluk masih membutuhkan upaya tanpa henti dari semua pihak," tambahnya.
Peringatan Beijing bukan tanpa alasan. Pada tahap berikutnya, Washington dan Teheran masih harus merundingkan sejumlah isu sensitif, mulai dari program nuklir Iran, pencabutan sanksi, penarikan pasukan AS di kawasan, hingga pengaturan keamanan maritim di Selat Hormuz.
China juga menilai Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) harus memainkan peran lebih besar untuk mendukung proses negosiasi tersebut.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan bahwa Wang Yi dan Ishaq Dar sepakat untuk terus mendorong penyelesaian damai terhadap berbagai persoalan yang masih tersisa.
Keduanya juga menyoroti pentingnya pembukaan kembali Selat Hormuz bagi perekonomian global, keamanan energi, dan perdagangan internasional.
Para pejabat Pakistan sebelumnya menyebut China memainkan peran penting dalam mendukung upaya mediasi yang menghasilkan kesepakatan damai awal antara AS dan Iran.
Baca Juga: Pemerintah Indonesia Terapkan Sistem Grading, Dapur Tak Lagi Bisa Seenak Hati Jalankan Program MBG
Meski kesepakatan awal telah tercapai dan penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni di Swiss, pernyataan Beijing mengindikasikan bahwa tantangan terbesar justru baru akan dimulai setelah kedua negara duduk untuk merundingkan detail perdamaian jangka panjang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: