- Home
- /
- EkBis
- /
- Agribisnis
Harga TBS Anjlok hingga Rp1.200/Kg, Petani Sawit Rakyat Hadapi Tekanan Ganda
Kredit Foto: Abdul Aziz
Petani sawit rakyat menghadapi tekanan ganda akibat anjloknya harga tandan buah segar (TBS) dan meningkatnya ancaman penyakit Ganoderma yang berpotensi menurunkan produktivitas kebun. Kondisi tersebut menjadi perhatian Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) yang meminta pemerintah segera memperkuat perlindungan terhadap sektor sawit rakyat.
Ketua Umum DPP APKASINDO, Gulat Medali Emas Manurung, mengatakan penurunan harga TBS dalam beberapa pekan terakhir telah berdampak langsung terhadap petani, khususnya petani swadaya yang tidak memiliki mekanisme perlindungan harga seperti petani plasma.
Menurutnya, salah satu faktor yang menyebabkan harga TBS tertekan adalah tidak optimalnya mekanisme pembentukan harga minyak sawit mentah (CPO), termasuk terganggunya tender harian CPO di Kantor Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN).
“Dampak terbesar dirasakan petani swadaya yang menguasai sekitar 93 persen dari total 6,8 juta hektare kebun sawit rakyat. Tanpa referensi harga yang jelas, pabrik kelapa sawit komersial memiliki ruang lebih besar menentukan harga pembelian TBS,” jelas Gulat dalam keterangannya dikutip Minggu, (21/6/2026).
Ia menyebut, kondisi tersebut membuat petani semakin rentan ketika harga pasar mengalami tekanan. Sementara petani plasma yang hanya sekitar tujuh persen masih memiliki perlindungan melalui mekanisme penetapan harga pemerintah daerah, meski tetap terdampak karena formula harga mengacu pada tren harga CPO sebelumnya.
Ketua DPW APKASINDO Kalimantan Timur, Betman Siahaan, mengungkapkan tekanan harga TBS di wilayahnya menjadi salah satu yang paling tajam. Berdasarkan hasil rapat nasional APKASINDO, harga TBS yang sebelumnya berada di kisaran Rp3.000 per kilogram sempat turun hingga Rp1.200 per kilogram.
Pada level harga tersebut, kata Betman, pendapatan petani hampir habis untuk menutup biaya produksi, terutama biaya panen dan transportasi.
“Keuntungan bersih petani hanya sekitar Rp200 per kilogram. Banyak petani akhirnya memilih menunda panen karena tidak lagi ekonomis,” ungkapnya.
Selain menekan pendapatan petani, penurunan harga juga berdampak kepada pelaku usaha pengumpul atau RAM karena stok sawit mengalami penumpukan ketika harga turun secara mendadak.
Baca Juga: Amran Turun Tangan, Ratusan Perusahaan Sawit Ketar-Ketir! Harga TBS Akhirnya Balik Naik
APKASINDO menduga sebagian pabrik kelapa sawit (PKS) menerapkan pembatasan pembelian melalui sistem kuota meskipun harga CPO tidak mengalami penurunan signifikan. Organisasi petani itu pun mendorong pemerintah mempercepat pembentukan mekanisme perdagangan CPO yang lebih transparan, termasuk mengaktifkan kembali Bursa CPO Indonesia.
“Perusahaan yang sengaja menekan harga dengan alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan harus ditindak tegas. Langkahnya bisa melalui pembentukan satgas hingga pencabutan izin usaha,” tegas Gulat.
Ancaman Ganoderma Mengintai Kebun Rakyat
Di sisi lain, APKASINDO juga menyoroti ancaman penyakit Ganoderma yang mulai menyerang sejumlah sentra perkebunan sawit rakyat, termasuk di Kalimantan Timur.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam Workshop Pemberdayaan Petani Sawit dalam Pengendalian Ganoderma dan Kumbang Tanduk untuk Keberlanjutan Perkebunan Sawit yang digelar di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur.
Gulat menilai Ganoderma merupakan salah satu ancaman serius karena menyerang bagian akar dan batang tanaman sehingga sulit dideteksi sejak awal.
“Ganoderma ini pembunuh berdarah dingin. Tidak tampak seperti hama lainnya, tetapi bisa membuat tanaman layu dan mati dalam waktu relatif singkat,” tegasnya.
Menurutnya, serangan penyakit tersebut membutuhkan langkah pencegahan sejak dini karena dapat mengganggu keberlanjutan produksi sawit rakyat dalam jangka panjang.
Baca Juga: Permintaan Global Naik, Lidi Sawit Indonesia Mulai Masuk Pasar Internasional
Baca Juga: Prabowo Turun Tangan Soal Harga Sawit, Mentan Ungkap Masih Ada Perusahaan yang Belum Patuh
Betman menyebut Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser menjadi wilayah yang mulai terdampak serangan Ganoderma dan kumbang tanduk. Ia menilai masih banyak petani yang belum memahami gejala awal penyakit tersebut.
“Banyak petani mengira tanaman mati karena tersambar petir, padahal penyebab sebenarnya adalah infeksi jamur pada akar dan batang,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, APKASINDO menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, organisasi petani, dan pelaku industri untuk menjaga keberlanjutan sawit rakyat.
APKASINDO saat ini mengklaim telah terkonsolidasi di 24 provinsi dan 164 kabupaten/kota dengan sekitar 2,4 juta anggota.
“APKASINDO saat ini telah terkonsolidasi di 24 provinsi dan 164 kabupaten/kota dengan sekitar 2,4 juta anggota. Karena itu, sinergi antara organisasi petani, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan sangat penting untuk meningkatkan produktivitas kebun serta menjaga keberlanjutan sektor sawit sebagai penggerak ekonomi rakyat,” ujar Gulat.
Selain penguatan produksi, APKASINDO juga mendorong percepatan hilirisasi sawit melalui pemanfaatan minyak sawit asam tinggi sebagai bahan baku biodiesel (FAME) maupun bahan bakar penerbangan untuk meningkatkan serapan domestik dan nilai tambah industri sawit nasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra