Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Turun 4%, BEI Ungkap Dampak Eskalasi Geopolitik di Timur Tengah

IHSG Turun 4%, BEI Ungkap Dampak Eskalasi Geopolitik di Timur Tengah Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Warta Ekonomi, Jakarta -

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, menyatakan bahwa pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah tajam pada perdagangan hari ini terjadi seiring dengan koreksi signifikan di berbagai bursa saham regional.

Sejumlah indeks utama di kawasan Asia tercatat terkoreksi dalam, di antaranya KOSPI (Korea Selatan), SET Index (Thailand), KOSDAQ, Nikkei 225 (Jepang), TAIEX (Taiwan), serta S&P/ASX 200 (Australia). Bahkan, bursa Korea Selatan sempat memberlakukan trading halt setelah anjlok lebih dari 8%.

"Hal ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas," kata Irvan kepada wartawan, Rabu (4/3/2026).

Tekanan pasar juga dipicu oleh langkah Iran yang menutup Selat Hormuz. Penutupan jalur strategis tersebut menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya distribusi minyak global dan memicu potensi krisis energi.

"Dan Iran menutup selat Hormuz yang menyebabkan kekhawatiran munculnya krisis Energi. Hal ini sdh tercermin di harga minya dunia yang meningkat," ungkap dia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terperosok 4,02% ke level 7.620 pada perdagangan pagi ini, Rabu (4/3/2026). Mengutip data RTI pada pukul 10:24, IHSG sempat dibuka di level 7.896 dan menyentuh level tertinggi di angka 7.897.

Baca Juga: IHSG Ambruk 4%, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Dinilai Jadi Pemicunya

Baca Juga: Tekanan Belum Reda, IHSG Hari Ini Rabu (4/3) Dibuka Ambruk 1%

Senior Technical Analyst, Nafan Aji Gusta sebelumnya mengatakan secara teknikal, IHSG berada dalam fase minor bearish didukung MA20&60 yang membentuk pola bearish crossover. Berdasarkan indikator, Stochastics KD dan RSI menunjukkan sinyal negatif serta didukung penurunan volume.

Dia mengungkapkan, pelemahan indeks masih terjadi akibat sentimen perang AS-Iran yang berdampak terhadap harga energi dan inflasi global. Sentimen risk-off diperkirakan masih terjadi seiring dengan faktor geopolitik global dan kekhawatiran pasar terhadap inflasi serta volatilitas market. 

"Jika berkepanjangan, perang itu dapat menekan perekonomian sebab ongkos logistik meningkat dan menekan peluang ekspor," jelas Nafan kepada wartaekonomi, Rabu (4/3/2026).

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: