Perang di Timur Tengah Bikin Multifinance Lebih Selektif Salurkan Kredit
Kredit Foto: Azka Elfriza
Industri pembiayaan di Indonesia mulai bersikap lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit seiring meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik Amerika Serikat–Israel dengan Iran yang berpotensi memicu tekanan terhadap perekonomian global.
Chief Financial Officer PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk, Sylvanus Gani Mendrofa, mengatakan perusahaan pembiayaan saat ini masih memantau perkembangan konflik tersebut sambil menilai potensi dampaknya terhadap ekonomi, termasuk risiko kenaikan harga minyak dunia.
“Kita masih wait and see dampaknya secara umumnya. Dampaknya secara langsung seberapa cepat ini berdampak pada perekonomian, kita masih nunggu lah analis-analis ekonomi mendiskusikan perkembangan dari perang Iran ini,” ujar Gani kepada Warta Ekonomi, Kamis (5/3/2026).
Menurutnya, salah satu risiko utama dari konflik tersebut adalah potensi kenaikan harga minyak global, terutama jika terjadi gangguan pada Selat Hormuz yang merupakan jalur penting perdagangan energi dunia.
Kenaikan harga minyak yang berlangsung dalam waktu lama berpotensi memicu inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut dapat menekan daya beli masyarakat dan berdampak pada kemampuan konsumen dalam memenuhi kewajiban pembayaran pembiayaan.
“Masih belum secara direct. Kita pasti akan punya dampak apabila harga minyak naik dan itu naiknya berkepanjangan. Kalau harga minyak berkepanjangan itu membuat daya beli tergerus oleh kenaikan inflasi,” katanya.
Ia menjelaskan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi, terutama bahan bakar minyak (BBM), dapat mengurangi ruang konsumsi masyarakat sehingga memengaruhi kemampuan pembayaran cicilan.
“Ketika daya beli tergerus oleh inflasi, salah satu penyebab inflasi adalah kenaikan BBM dan kenaikan lanjutannya turunannya. Mungkin istilahnya kemampuan atau sebagian daya beli yang harusnya dipakai untuk mengangsur jadi berkurang karena kenaikan inflasi itu,” ujarnya.
Dalam kondisi tersebut, perusahaan pembiayaan perlu memperketat proses analisis kredit guna meminimalkan risiko pembiayaan bermasalah.
Gani menegaskan perusahaan akan memastikan proses underwriting dilakukan secara lebih selektif agar portofolio pembiayaan tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.
“Mungkin lebih kepada bagaimana kita memastikan underwriting kita atau pembiayaan kita dilakukan secara selektif. Jangan yang dikit-dikit tergoncang terus tiba-tiba kita beli. Nanti malah backfire buat kita,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: