Ahmad Sahroni: Penjaminan Hadirnya Ruang Aman Juga Merupakan Hak Para Atlet
Kredit Foto: Instagram/Ahmad Sahroni
Dugaan kekerasan seksual dan fisik mengguncang Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) dan kini masuk ranah hukum.
Seorang pelatih kepala diduga terlibat. Sekretaris Umum FPTI, Wahyu Pristiawan Buntoro, Selasa (24/2), pun menyebut pihaknya telah memberhentikan terduga pelaku.
Para atlet yang menjadi korban juga telah menempuh jalur hukum. Mereka resmi melaporkan dugaan kekerasan tersebut ke kepolisian agar proses berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Kasus ini pun lantas mendapat sorotan dari Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni yang juga merupakan pembina club sepeda ASC Monsters itu menyebut penjaminan hadirnya ruang aman juga merupakan hak para atlet.
"Sebagai pembina atlet juga, saya memahami betul bahwa tugas kita bukan hanya membina prestasi dan menyediakan fasilitas latihan yang baik, tetapi juga memastikan para atlet memiliki ruang yang aman dari berbagai jenis intimidasi dan kekerasan. Karenanya, kasus seperti ini tidak boleh dianggap sepele. Saya minta Polri proses cepat laporan para atlet dan pastikan prosesnya adil dan transparan" kata Sahroni dalam keterangannya hari ini (5/3).
Selain itu, Sahroni juga meminta seluruh stakeholder untuk berpihak pada korban. Juga, memberikan fasilitas pemulihan terbaiknya untuk para atlet.
"Kemenpora, KONI, dan seluruh stakeholder olahraga juga berpihak pada korban. Karena jangan sampai para atlet dijunjung hanya saat meraih prestasi, tapi diabaikan ruang amannya saat berproses,” tegas Sahroni.
Sebelumnya, kasus ini bermula ketika delapan atlet panjat tebing terdiri dari atlet Pelatnas dan daerah melaporkan dugaan kekerasan seksual serta kekerasan fisik yang mereka alami kepada pengurus FPTI. Laporan tersebut disampaikan langsung kepada Ketua Umum FPTI pada 28 Januari 2026.
Para atlet mengaku mengalami perlakuan yang tidak pantas selama proses latihan dan pembinaan di lingkungan Pelatnas.
Laporan para atlet mengarah pada pelatih kepala tim panjat tebing nasional, yang sebelumnya dikenal sebagai sosok penting di balik prestasi Indonesia di tingkat dunia.
Kasus ini mengejutkan publik karena pelatih tersebut pernah membawa Indonesia meraih prestasi internasional. Setelah laporan muncul, FPTI langsung menonaktifkan sementara pelatih tersebut untuk memudahkan proses investigasi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: