Bukan Mojtaba Khamenei, Amerika Serikat Ingin Ikut Tentukan Pemimpin Baru Iran
Kredit Foto: Istimewa
Amerika Serikat (AS) menyatakan ingin terlibat dalam proses penentuan pemimpin baru dari Iran. Hal ini terjadi di tengah konflik yang terus memanas antara Amerika Serikat, Israel dan Teheran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pihaknya memiliki kepentingan untuk ikut menentukan sosok yang akan menjadi pemimpin selanjutnya dari Iran.
Baca Juga: Iran Ancam Serang Fasilitas Nuklir Israel
“Kami ingin terlibat dalam proses memilih orang yang akan memimpin negara tersebut di masa depan,” kata Trump, dikutip dari Reuters.
Ia juga menegaskan pihaknya tidak ingin konflik serupa terus berulang setiap beberapa tahun. Menurutnya, intervensinya dilakukan demi kebaikan dunia dan masyarakat dari Iran.
“Kami tidak ingin kembali setiap lima tahun untuk melakukan hal yang sama lagi. Kami ingin seseorang yang baik bagi rakyat dan negara Iran,” tambahnya.
Adapun Trump juga menyoroti laporan diangkatnya sosok dari Putra Mendiang Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei. Ia disebut-sebut telah menjadi sosok pemimpin tertinggi baru untuk Iran.
Mojtaba sebelumnya dianggap sebagai salah satu kandidat kuat untuk menggantikan ayahnya. Ia dikenal sebagai tokoh garis keras yang memiliki pengaruh besar dalam lingkaran kekuasaan dari Iran.
Menurut Trump, Mojtaba Khamenei bukanlah sosok ideal untuk Iran. Ia menyebut sosok tersebut bukan pilihan yang akan mendapatkan restu dari Amerika Serikat.
Diketahui, Perang Amerika Serikat-Israel dan Iran kini memasuki hari keenam dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda mereda. Konflik antara kedua belah pihak bahkan semakin meluas di Timur Tengah.
Militer Israel memperingatkan warga untuk meninggalkan beberapa wilayah di Teheran. Hal ini menyusul serangkaian serangan udara dilaporkan terjadi dalam berbagai bagian ibu kota dari Iran.
Iran di sisi lain meluncurkan serangkaian serangan balasan serta beberapa negara, termasuk Uni Emirat Arab dan Qatar. Kebakaran akibat drone juga dilaporkan terjadi dalam sebuah kilang minyak di Bahrain.
Konflik bahkan mulai menyeret negara lain. Azerbaijan baru-baru ini melaporkan serangan drone dari diduga berasal dari Iran. Namun Teheran membantah tuduhan tersebut.
Sejak konflik pecah, jumlah korban terus meningkat. Laporan terbaru menyebut sedikitnya 1.230 orang tewas di Iran. Dari jumlah korban tersebut, 175 diantaranya adalah siswi dan staf sekolah yang menjadi korban serangan di sebuah sekolah dasar di Minab.
Di Lebanon, sedikitnya 77 orang dilaporkan tewas akibat serangan yang berkaitan dengan konflik tersebut. Sementara itu, ribuan warga terpaksa mengungsi dari wilayah selatan dari Beirut.
Baca Juga: Dirudal Amerika Serikat, Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Dikabarkan Masih Hidup
Eskalasi Amerika Serikat, Israel dan Iran kini berpotensi berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas jika tidak segera diredakan melalui jalur diplomasi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: