Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BINA Lebaran 2026 Jadi Instrumen Peningkatan Daya Beli Masyarakat

BINA Lebaran 2026 Jadi Instrumen Peningkatan Daya Beli Masyarakat Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa peluncuran Program Belanja di Indonesia Aja (BINA) Lebaran 2026 merupakan upaya pemerintah untuk memperkuat konsumsi domestik dan meningkatkan daya beli masyarakat.

Program ini juga menjadi instrumen strategis untuk menggerakkan sektor perdagangan domestik melalui kolaborasi berbagai pelaku usaha. Sejumlah pusat perbelanjaan dan ritel akan menghadirkan beragam promosi serta kegiatan belanja guna menarik minat masyarakat, sejalan dengan momentum Ramadan dan Idulfitri sebagai periode penting bagi peningkatan konsumsi dalam negeri.

Baca Juga: THR Pegawai Swasta Dipotong Pajak, Ini Penjelasan Menkeu Purbaya

Ini disampaikan Mendag usai peluncuran yang berlangsung di Pusat Perbelanjaan Senayan City, Jakarta, pada Jumat (6/3/2026). 

“Program BINA Lebaran 2026 merupakan instrumen untuk meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus mendorong konsumsi domestik. Program ini merupakan kolaborasi yang baik antara ritel modern dengan pusat perbelanjaan; serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menyediakan berbagai produk bagi masyarakat dalam menyambut Lebaran,” ujar Mendag, dikutip dari siaran pers Kemendag, Senin (9/3).

Menurut Mendag Busan, kolaborasi dengan pelaku usaha akan terus diperluas melalui berbagai agenda promosi dan kegiatan belanja lainnya setelah periode Lebaran. Dengan demikian, momentum peningkatan konsumsi masyarakat dapat terus terjaga sepanjang tahun.

“Setelah Lebaran juga akan ada berbagai agenda menarik lainnya. Kerja sama seperti ini akan terus kita lakukan agar kesempatan menjual produk di dalam negeri sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat dapat terus meningkat,” kata Mendag Busan.

Sementara itu, dalam sambutannya, Menko Airlangga menyampaikan, momentum Ramadan dan Lebaran selalu menjadi periode penting bagi peningkatan konsumsi masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah bersama pelaku usaha ritel terus menghadirkan berbagai program promosi untuk mendorong belanja domestik.

“Program BINA Lebaran tahun ini berlangsung selama 25 hari dengan target transaksi mencapai Rp53 triliun atau meningkat sekitar 60 persen dibandingkan tahun lalu. Kami berharap kegiatan ini dapat semakin menggairahkan konsumsi masyarakat,” ujar Airlangga.

Airlangga menambahkan, pemerintah juga menyiapkan berbagai stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat menjelang Lebaran. Di antaranya, yaitu penyaluran bantuan sosial pangan berupa beras 20 kilogram dan minyak goreng dua liter per bulan bagi sekitar 35 juta keluarga penerima manfaat dengan total anggaran Rp11,92 triliun.

“Kami melihat dana yang beredar menjelang Lebaran cukup besar. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini,” kata Airlangga.

Program BINA Lebaran 2026 melibatkan sekitar 800 merek, 80.000 gerai ritel, serta 400 pusat perbelanjaan yang tersebar di 24 provinsi di Indonesia. Berbagai program promosi disiapkan untuk meningkatkan minat belanja masyarakat, antara lain, potongan harga hingga 70–80 persen untuk produk fesyen, gaya hidup, serta perlengkapan Lebaran di berbagai tenant anggota Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo).

BINA Lebaran 2026 juga menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan lain seperti midnight sale di sejumlah pusat perbelanjaan serta promo belanja bagi wisatawan dalam negeri. Pemerintah pusat juga mendorong dukungan pemerintah daerah melalui relaksasi pajak reklame selama pelaksanaan program, serta penyebarluasan informasi program melalui media sosial pemerintah daerah dan Kementerian Perdagangan.

Ketua Umum Hipindo Budihardjo Iduansjah mengatakan, program BINA Lebaran menjadi momentum penting bagi sektor ritel untuk meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi dalam negeri.

“Program ini kami siapkan untuk memperkuat konsumsi domestik. Dengan berbagai promosi yang dihadirkan oleh ritel dan pusat perbelanjaan, kami berharap masyarakat semakin terdorong untuk berbelanja dan perputaran ekonomi nasional dapat meningkat selama Ramadan dan menjelang Lebaran,” ujar Budihardjo.

Di lain pihak, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja memproyeksikan kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan selama periode Ramadan hingga Lebaran 2026 akan meningkat. Tren kunjungan mal saat ini mulai menunjukkan perbaikan, dengan kenaikan yang diperkirakan mencapai sekitar 10–15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu seiring meningkatnya aktivitas belanja masyarakat menjelang Idulfitri.

Baca Juga: Airlangga Pastikan Usaha Bullion Emas Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Alphonzus menjelaskan, puncak aktivitas belanja diperkirakan terjadi dalam dua pekan menjelang Lebaran, terutama pada akhir pekan ketika masyarakat mulai mempersiapkan kebutuhan mudik dan perayaan Idulfitri. “Kami melihat tren kunjungan sudah mulai meningkat dan kami perkirakan kenaikannya bisa mencapai 10 hingga 15 persen. Puncak belanja kemungkinan terjadi dalam dua minggu ke depan sebelum masyarakat mulai mudik,” ujar Alphonzus.

Menurutnya, lonjakan kunjungan juga berpotensi kembali terjadi setelah Lebaran, khususnya pada hari kedua Idulfitri ketika masyarakat memanfaatkan waktu libur untuk berwisata dan rekreasi di pusat perbelanjaan. Perubahan pola konsumsi juga diperkirakan terjadi pada periode tersebut dengan dominasi belanja di sektor makanan, minuman, serta hiburan. “Jika tingkat kunjungan meningkat, biasanya transaksi ritel juga akan mengikuti dengan pertumbuhan yang relatif sejalan,” tambah Alphonzus.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya