Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada awal perdagangan pekan ini, Senin (9/3/2026). Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 09.35 WIB, IHSG merosot 325,53 poin atau turun 4,29% ke posisi 7.260, dengan titik terendah sempat menyentuh level 7.156.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan secara teknikal IHSG tengah berada dalam fase bearish consolidation setelah terbentuk pola downward bar. Sementara itu, indikator stochastics K-Dmenunjukkan sinyal negatif dan volume transaksi menurun, meski indikator relative strength index (RSI) sudah berada pada kondisi jenuh jual.
“Pergerakan IHSG masih dipengaruhi sentimen negatif dari perang AS–Iran yang mendorong investor global mengurangi risk appetite dan beralih ke aset safe haven,” ujar Nafan dalam pernyataannya.
Selain faktor geopolitik, pelemahan indeks juga dipicu oleh langkah Fitch Ratings yang menurunkan outlook kredit Indonesia dari stable menjadi negative. Perubahan tersebut memunculkan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal dan stabilitas makroekonomi Indonesia.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menilai perubahan outlook dari Fitch mencerminkan meningkatnya risiko terhadap prospek fiskal dan kebijakan ekonomi ke depan, terutama di tengah ketidakpastian arah kebijakan serta potensi pelebaran defisit anggaran.
Fitch juga menyoroti kebutuhan pembiayaan yang lebih besar untuk mendukung berbagai program prioritas pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis. Program tersebut dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap posisi fiskal apabila tidak diimbangi dengan peningkatan penerimaan negara.
Selain itu, lembaga pemeringkat tersebut mencermati rasio utang pemerintah yang masih terkendali namun berpotensi meningkat, serta beban pembayaran bunga yang relatif lebih tinggi dibandingkan negara lain dengan peringkat serupa.
“Kami menilai jika disiplin fiskal melemah atau rasio utang meningkat lebih cepat dari perkiraan, risiko penurunan peringkat dapat terbuka. Langkah Fitch ini sejalan dengan keputusan Moody’s yang sebelumnya juga menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif, sehingga menambah sorotan investor global terhadap kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia,” ujar Maximilianus.
Menurut dia, jika kondisi tersebut tidak segera direspons dengan langkah perbaikan, dampaknya dapat merugikan pasar keuangan domestik, terutama pasar saham dan obligasi yang berpotensi mengalami arus keluar modal (capital outflow).
Baca Juga: IHSG Sesi I Turun 3,49% ke 7.321, MDKA, NCKL dan PGAS Top Losers LQ45
Baca Juga: Duh! IHSG Hari Ini Senin (9/3) Dibuka Tersungkur 3% ke 7.300-an
Baca Juga: Rekap Saham Tercuan dan Terboncos dalam Sepekan Kala IHSG Babak Belur
“Penurunan prospek peringkat berarti membuka kemungkinan turunnya rating Indonesia, yang tentu meningkatkan kekhawatiran investor,” kata dia.
Ia menjelaskan, apabila penurunan peringkat benar-benar terjadi, risiko gagal bayar akan meningkat sehingga imbal hasil (yield) cenderung naik sebagai kompensasi atas risiko yang lebih tinggi. Kondisi ini berpotensi membuat investor menghindari instrumen saham maupun obligasi.
“Ini bukan lagi soal menjalankan semua program prioritas, tetapi bagaimana pemerintah mengelola program tersebut sambil tetap menjaga disiplin fiskal dan stabilitas makroekonomi ke depan,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: