Kredit Foto: MIND ID
Sebanyak 31 pelaku usaha mikro kecil (UMK) binaan MIND ID memanfaatkan momentum Ramadan dan Lebaran, untuk memperluas pasar dan meningkatkan penjualan produk lokal.
Para pelaku UMK tersebut turut ambil bagian dalam Bazar UMKM Kementerian ESDM yang digelar pada 9–11 Maret 2026.
Produk yang dipamerkan beragam, mulai dari panganan khas daerah, kriya dan wastra, produk herbal, hingga cendera mata lokal.
Wakil Direktur Utama MIND ID Dany Amrul Ichdan mengatakan, pembinaan UMK merupakan bagian dari upaya perusahaan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif di daerah, khususnya di wilayah sekitar tambang.
“Kami ingin memastikan para mitra binaan tidak hanya menjalankan usaha, tetapi membangun fondasi bisnis yang berkelanjutan."
"Ketika kearifan lokal diperkuat dengan kapasitas produksi, kualitas, dan akses pasar, maka produk daerah tidak lagi berhenti sebagai komoditas lokal."
"Ia bisa naik kelas menjadi bagian dari rantai nilai yang lebih luas, bahkan global."
"Di situlah pemberdayaan ekonomi lokal tidak sekadar program sosial, melainkan strategi memperdalam struktur ekonomi nasional," ujar Dany dalam keterangannya, Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, Grup MIND ID memberikan berbagai dukungan kepada UMK binaan, mulai dari akses permodalan, mentoring bisnis, kurasi kemasan dan desain, peningkatan standar mutu, hingga penguatan strategi pemasaran digital.
Perusahaan juga membuka akses pasar melalui berbagai pameran, kanal pemasaran business-to-business (B2B), serta gerai kurasi produk.
Dukungan tersebut membuat UMK binaan lebih siap menghadapi lonjakan permintaan, termasuk pada periode Ramadan dan Lebaran.
Salah satu mitra binaan yang merasakan dampak pembinaan tersebut adalah Hera (53), pemilik merek Mirrando dari Bangka Belitung yang memproduksi sirup dan jelly candy berbahan jeruk kunci khas daerah.
Usaha yang awalnya dirintis dari dapur rumah itu berkembang setelah Hera menjadi mitra binaan PT Timah Tbk, anggota Grup MIND ID.
Melalui program pembinaan, ia memperoleh akses permodalan bergulir, pelatihan manajemen keuangan, pemasaran digital, hingga kesempatan mengikuti berbagai pameran produk.
“Dulu rasanya semua serba sendiri."
"Sekarang ketika pesanan naik menjelang Lebaran, kami jauh lebih siap,” katanya, Senin (9/3/2026).
Cerita serupa datang dari Rosi Fitriani, pemilik UMK FnR Craft yang merupakan mitra binaan PT Bukit Asam Tbk.
Ia mengolah wastra khas Sumatra Selatan seperti songket dan jumputan, menjadi tas etnik dengan desain bernilai seni tinggi.
Melalui pendampingan PT Bukit Asam, FnR Craft mendapatkan dukungan berupa kurasi desain, peningkatan standar kualitas produk, hingga promosi dalam berbagai pameran.
Produk tas etnik tersebut kini telah menembus pasar internasional seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura.
“Pendampingan dari PTBA membuat kami lebih percaya diri untuk masuk ke pasar korporasi hingga pasar luar negeri,” ungkap Rosi.
Menurut Rosi, momentum Lebaran juga menjadi kesempatan memperkenalkan produk daerah kepada lebih banyak pelanggan.
“Kami belajar mengelola pesanan Lebaran dengan lebih rapi."
Baca Juga: MIND ID Dukung Kebijakan Energi, Wujudkan Swasembada Nasional
"Bangga rasanya ketika produk daerah kami menjadi buah tangan."
"Tas etnik ini bukan hanya cantik, tapi juga membawa cerita tentang Sumatra Selatan,” tutur Rosi. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: