Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Calon Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Hasan Fawzi, memaparkan kerangka solusi strategis bertajuk “Integralitas” sebagai upaya reformasi integritas sektor pasar modal, keuangan derivatif, dan bursa karbon Indonesia secara menyeluruh.
Hasan menjelaskan kerangka tersebut akan menjadi payung kebijakan untuk mengorkestrasi delapan rencana aksi reformasi integritas pasar yang dikelompokkan dalam lima klaster utama, yakni integrasi, granularitas, likuiditas, transparansi, dan akuntabilitas.
“Kerangka ini menjadi payung kebijakan yang akan mengorkestrasi delapan rencana aksi reformasi integritas pasar dan dikelompokkan dalam lima klaster utama,” kata Hasan saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Pada klaster integrasi, Hasan menekankan pentingnya memperkuat koordinasi, kerja sama, dan sinergi lintas otoritas. Upaya tersebut mencakup kolaborasi dengan parlemen, kementerian dan lembaga, self regulatory organization (SRO) di pasar modal, aparat penegak hukum, pelaku industri, serta pemangku kepentingan lainnya.
Sementara pada klaster granularitas, reformasi difokuskan pada peningkatan kualitas data pasar. Hal ini dilakukan melalui penguatan detail data kepemilikan saham perusahaan terbuka serta klasifikasi investor yang lebih rinci.
Hasan menyebut klasifikasi investor tersebut akan diperluas hingga sedikitnya 28 subtipe guna meningkatkan ketepatan analisis dan pengawasan pasar.
Di klaster likuiditas, Hasan mengusulkan peningkatan batas minimum free float saham menjadi 15 persen dari ketentuan saat ini sebesar 7,5 persen.
Selain itu, pendalaman pasar juga akan dilakukan melalui diversifikasi produk dan layanan, terutama pengembangan instrumen non-ekuitas dan produk non plain seperti instrumen berbasis surat utang dan sukuk, keuangan derivatif, keuangan berkelanjutan, serta bursa karbon.
Baca Juga: Hasan Fawzi Dorong Reformasi Pasar Modal Saat Fit and Proper Test DK OJK
Baca Juga: Tatap Indonesia Emas 2045, Friderica Widyasari Dewi Bidik Transformasi OJK Jadi Motor Ekonomi
Pada klaster transparansi, Hasan menekankan pentingnya penguatan keterbukaan informasi di pasar modal. Hal tersebut mencakup pengungkapan ultimate beneficial owner (UBO) di balik kepemilikan saham perusahaan terbuka serta potensi afiliasi antar pemegang saham, khususnya bagi kepemilikan di atas 1 persen.
Adapun pada klaster akuntabilitas, reformasi akan mencakup penguatan tata kelola emiten, konsistensi kepatuhan, serta penegakan hukum di sektor pasar modal.
Selain itu, Hasan juga mendorong arah pengembangan menuju demutualisasi bursa sebagai langkah reformasi struktural guna meningkatkan tata kelola, daya saing, serta pengembangan produk pasar keuangan di Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: