Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Iran Tutup Dialog, Trump Malah Isyaratkan Negosiasi

Iran Tutup Dialog, Trump Malah Isyaratkan Negosiasi Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan sinyal kemungkinan perundingan pada Selasa (10/3/2026) di tengah sikap tegas Iran yang menutup ruang diplomasi.

“Itu mungkin saja, tergantung pada syaratnya, mungkin saja, hanya mungkin... Anda tahu, sebenarnya kita tidak perlu lagi berbicara, jika benar-benar dipikirkan, tetapi itu mungkin,” kata Trump kepada Fox News ketika ditanya mengenai kemungkinan tersebut, dikutip dari Antara, Kamis (12/3).

Baca Juga: Perang Iran-Amerika Serikat Bakal Panjang: Tidak Ada Rencana Jelas untuk Mengakhirinya

Dirinya juga mengaku tidak percaya Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei yang telah diangkat sebagai pemimpin tertinggi baru Iran, "dapat hidup dengan damai."

Sebelumnya pada Senin, Trump mengatakan “kecewa” dengan terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi.

Sementara sebelumnya, Penasihat kebijakan luar negeri pemimpin tertinggi Iran, Kamal Kharazi, menegaskan bahwa pihaknya telah menghentikan jalur diplomasi dengan Amerika Serikat (AS).

Dirinya menuduh Presiden AS Donald Trump ingkar janji dan menipi Iran dalam dua putaran perundingan, bahkan ketika proses negosiasi berlangsung, serangan justru dilancarkan terhadap Iran.

Ini disampaikan Kharazi dalam wawancara dengan CNN di kantor pemimpin tertinggi Iran, Senin malam (9/3/2026), waktu setempat.

"Saya tidak melihat ruang untuk diplomasi lagi, karena Donald Trump telah menipu pihak lain dan tidak menepati janjinya, dan kami mengalami hal itu dalam dua putaran perundingan; saat kami sedang terlibat bernegosiasi, mereka justru menyerang kami," kata Kharazi.

Saat ini diplomasi bukan lagi pilihan, Kharazi menyatakan kesiapan Iran untuk menghadapi perang berkepanjangan dengan AS. Ia menambahkan, Iran akan terus menekan negara-negara Arab Teluk melalui serangan agar mendorong Donald Trump mundur dari konflik, sehingga menghentikan agresi Amerika dan Israel. 

Baca Juga: Meski DIguncang Perang AS - Iran, OJK Klaim Pasar Modal RI Masih Dilirik Investor Asing

"Perang ini telah menimbulkan banyak tekanan, tekanan ekonomi, terhadap pihak lain, dalam hal inflasi maupun kekurangan energi; dan jika ini terus berlanjut, maka tekanan itu akan semakin meningkat sehingga pihak lain tidak punya pilihan selain turun tangan," ucapnya.

Lebih lanjut, Kharazi menekankan bahwa militer dan kepemimpinan Iran tetap solid dan bersatu. Ia menegaskan, sebagaimana Ayatollah Khamenei memimpin kemampuan pertahanan Iran, pemimpin baru juga akan melanjutkan tanggung jawab tersebut.

"Tanggung jawab pemimpin Republik Islam Iran adalah memimpin kemampuan pertahanan Iran dan sebagaimana yang dilakukan Ayatollah Khamenei, kini pemimpin baru juga akan melakukannya," tegasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

Tag Terkait: