Kebuntuan Diplomasi AS-Iran: Qatar Mundur, Jalur Pakistan Juga Mandek
Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Upaya diplomatik untuk mencapai gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kian menemui jalan buntu. Harapan meredakan ketegangan di kawasan semakin menipis seiring mundurnya sejumlah mediator kunci serta tersendatnya jalur perundingan lintas negara.
Mengutip laporan The Wall Street Journal, Qatar telah memberi sinyal kepada pejabat AS bahwa mereka tidak bersedia mengambil peran utama dalam proses mediasi.
Sumber yang mengetahui perkembangan tersebut menyebut Doha secara tegas menolak memimpin negosiasi maupun menjadi perantara utama antara Washington dan Teheran.
Di saat bersamaan, jalur diplomasi yang difasilitasi Pakistan juga mengalami kebuntuan. Upaya untuk mempertemukan perwakilan kedua negara gagal setelah Teheran menolak menghadiri pertemuan yang direncanakan di Islamabad.
Iran menilai syarat yang diajukan Washington “tidak dapat diterima”, memperlebar jurang perbedaan sekaligus memperkecil peluang dimulainya kembali dialog.
Meski demikian, peluang diplomasi belum sepenuhnya tertutup karena Turki dan Mesir kini mencoba mengambil peran untuk menghidupkan kembali perundingan.
Sejumlah opsi lokasi tengah dipertimbangkan, termasuk Doha dan Istanbul, sebagai tempat potensial untuk membuka kembali jalur komunikasi.
Namun di tengah kebuntuan tersebut, Presiden AS Donald Trump justru merespons dingin eskalasi militer terbaru, termasuk insiden jatuhnya jet tempur AS di wilayah Iran.
Dalam pernyataan singkat kepada NBC News, Trump mengatakan, “Tidak, tidak sama sekali. Ini adalah perang. Kita sedang berperang.”
Pernyataan itu kemudian diperkuat melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social. Di tengah lonjakan harga energi global, Trump menulis, “Keep the oil, anyone?”, sebuah pernyataan yang memicu spekulasi luas dan dinilai sebagai sindiran terhadap sekutu-sekutu AS, termasuk Inggris, agar menyimpan minyak mereka sendiri.
Ketegangan yang terus meningkat dan minimnya kemajuan diplomasi menunjukkan bahwa jalan menuju deeskalasi masih panjang, dengan risiko konflik terbuka yang tetap membayangi kawasan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait:
Advertisement