Kredit Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Belakangan ini pasar saham Indonesia mengalami penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cukup signifikan. Namun, investor pemula tetap dapat menjaga portofolio agar aman dari risiko berlebihan dengan menerapkan sejumlah strategi investasi yang tepat.
Mengapa IHSG Bisa Anjlok?
1. Faktor Global
Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) menangguhkan penyesuaian indeks yang melibatkan sekuritas asal Indonesia memicu tekanan besar di pasar, yang menyebabkan harga saham turun dan volatilitas meningkat.
Baca Juga: Tak Sanggup Kembali ke Level 8.000, BNI Sekuritas Proyeksi IHSG Hany Bisa ke 7.800 pada 2026
2. Sentimen Domestik
Ketidakpastian aliran dana asing serta dinamika ekonomi dalam negeri memperburuk situasi. Investor menjadi lebih berhati-hati, sehingga likuiditas pasar melemah.
3. Panic Selling Investor
Kepanikan investor akibat penurunan harga saham mendorong aksi jual besar-besaran (panic selling). Hal ini semakin memperdalam pelemahan IHSG yang telah terjadi.
Apa yang Harus Dilakukan Saat IHSG Turun Tajam?
1. Hindari Panic Selling
Ketika IHSG anjlok, investor sebaiknya tidak terburu-buru untuk menjual harga saham. Aksi panic selling ustru bisa membuat kerugian semakin besar.
Investor lebih baik untuk tetap tenang dan menganalisis kondisi pasar sebelum mengambil keputusan.
2. Evaluasi Fundamental Saham
Investor sebaiknya memerika kembali fundamental perusahaan, seperti laporan keuangan, prospek bisnis, dan posisi industrinya. Jika kinerja perusahaan solid, maka penurunan harga saham biasanya hanya bersifat sementara.
3. Gunakan Strategi Averaging
Investor dapat memanfaatkan strategi averaging down dengan membeli saham berkualitas saat harganya turun. Cara ini dapat menurunkan harga rata-rata kepemilikan saham dan memberi peluang keuntungan lebih besar ketika pasar kembali pulih.
Strategi Investasi Saat Pasar Bearish
1. Diversifikasi Portofolio
Investor dapat menyebarkan protofolio berbagai instrumen, sektor, atau aset agar risiko tidak terkonsentrasi pada satu saham atau industri. Diversifikasi membantu menjaga stabilitas portofolio ketika pasar sedang melemah.
Baca Juga: IHSG Jeda Siang Naik 0,53% ke 7.428, ISAT, AADI dan ADRO Top Gainers LQ45
2. Fokus ke Saham Defensive
Sebaiknya memprioritaskan saham dari sektor yang relatif tahan terhadap gejolak pasar, seperti konsumsi dasar, kesehatan, atau utilitas. Saham jenis ini cenderung lebih stabil karena produknya selalu dibutuhkan masyarakat.
3. Siapkan Dana Darurat Investasi
Untuk menghindari keharusan menjual saham saat harga rendah, investor perlu menyiapkan dana cadangan. Dana darurat memberikan fleksibilitas untuk bertahan sekaligus memanfaatkan peluang ketika pasar mulai pulih.
Kesalahan yang Harus Dihindari Saat Pasar Crash
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: