Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Empat Politikus Republik Membelot, Trump Kena Tamparan Politik soal Perang Iran

Empat Politikus Republik Membelot, Trump Kena Tamparan Politik soal Perang Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dukungan terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam konflik Iran mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan. Empat anggota Partai Republik memilih membelot dan bergabung dengan Partai Demokrat untuk mendukung pembatasan kewenangan perang Trump.

Langkah tersebut terjadi saat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat menyetujui resolusi yang bertujuan membatasi kemampuan presiden melanjutkan perang dengan Iran tanpa persetujuan Kongres. Resolusi itu disahkan melalui voting dengan hasil 215 suara setuju berbanding 208 suara menolak.

Keputusan tersebut menjadi sorotan karena mencerminkan penolakan bipartisan yang jarang terjadi terhadap kebijakan perang Trump. Dukungan dari empat anggota Partai Republik menjadi faktor penting dalam lolosnya resolusi tersebut.

Resolusi itu diajukan oleh Partai Demokrat di tengah kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan dengan Iran dapat semakin meluas. Para pendukungnya menilai keputusan untuk melanjutkan perang tidak boleh hanya berada di tangan presiden.

Meski demikian, keberhasilan resolusi di DPR belum menjadi akhir dari proses politik di Washington. Aturan tersebut masih harus melewati Senat yang saat ini dikuasai Partai Republik.

Peluang untuk menjadi undang-undang juga menghadapi hambatan lain karena Trump memiliki hak veto sebagai presiden. Jika veto digunakan, Kongres membutuhkan dukungan dua pertiga suara di kedua kamar untuk membatalkannya.

Resolusi ini merupakan upaya keempat DPR AS untuk membatasi kewenangan perang presiden sejak konflik Iran pecah pada Februari 2026. Tiga upaya sebelumnya gagal, meskipun selisih suara terus mengecil dari waktu ke waktu.

Meningkatnya dukungan terhadap pembatasan kewenangan perang dinilai menunjukkan munculnya keresahan di kalangan anggota Kongres. Sebagian politisi mulai mempertanyakan arah dan dampak jangka panjang konflik yang masih berlangsung.

Di tengah tekanan politik tersebut, Trump justru memberikan sinyal bahwa jalur diplomasi masih terbuka. Presiden AS itu mengaku ingin bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

“Saya ingin bertemu dengannya, dan kami mungkin akan bertemu suatu saat nanti, tergantung bagaimana semuanya berjalan,” kata Trump kepada podcast Pod Force One.

Pernyataan itu muncul setelah laporan mengenai kondisi Mojtaba Khamenei yang disebut mengalami luka akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu. Serangan tersebut juga dilaporkan menewaskan Ayatollah Ali Khamenei.

Baca Juga: Trump Makin Meresahkan, DPR AS Putuskan Batasi Kewenangannya dalam Perang Melawan Iran

Trump mengaku pihaknya terus menerima informasi mengenai perkembangan kesehatan Mojtaba Khamenei. Ia bahkan menyebut kondisi pemimpin tertinggi Iran tersebut masih memprihatinkan.

“Saya tidak mendengar kabar bahwa kondisinya baik,” ujar Trump.

Sementara itu, hingga kini Amerika Serikat dan Iran belum mencapai kesepakatan damai yang dapat mengakhiri konflik. Situasi tersebut membuat perdebatan politik di Washington mengenai kewenangan perang presiden diperkirakan akan terus memanas dalam beberapa waktu ke depan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama