Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Janji Bensin Turun 50 Persen, Kenyataannya Naik 24 Persen, 48% Warga AS Salahkan Pemerintahannya

Trump Janji Bensin Turun 50 Persen, Kenyataannya Naik 24 Persen, 48% Warga AS Salahkan Pemerintahannya Kredit Foto: Reuters
Warta Ekonomi, Jakarta -

Tujuh bulan setelah Trump kembali menjabat, harga bensin AS justru naik 24 persen, dari $2,9 per galon, setara Rp47.270, sebelum konflik dengan Iran pecah, menjadi $3,6 per galon, setara Rp58.680, per 12 Maret.

Bukan turun 50 persen seperti yang dijanjikan dari panggung kampanye di Pennsylvania pada Agustus 2024.

Dilansir dari The Mirror, video janji kampanye Trump itu kini viral kembali di media sosial, diputar ulang jutaan kali bukan sebagai bukti janji yang ditepati, melainkan sebagai dokumentasi janji yang berbalik menghantam pembuatnya sendiri.

"Biaya energi, semuanya, pendingin udara, pemanas, semuanya, termasuk bensin akan turun lebih dari 50 persen dalam 12 bulan pertama," kata Trump dalam video tersebut.

Survei Morning Consult yang diperoleh Axios merekam reaksi publik dengan angka yang tajam. Dari 1.002 responden yang disurvei pada Rabu secara daring, 74 persen mengakui harga bensin sudah naik di 2026, dan 48 persen langsung menyebut pemerintahan Trump sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Jauh di bawahnya, 16 persen menyalahkan perusahaan minyak dan gas, 13 persen menyebut kekuatan pasar global, dan hanya 11 persen yang masih menunjuk mantan Presiden Biden.

Angka 11 persen untuk Biden adalah yang paling signifikan secara politik narasi "semua salah Biden" yang selama ini menjadi tameng Trump tampaknya sudah kehilangan daya cengkeramnya di isu harga bensin.

Bensin memang sempat turun sekitar 10 persen dalam setahun pertama Trump menjabat kembali, tapi penurunan itu lebih banyak dikreditkan ke keputusan OPEC+ yang meningkatkan produksi. Penurunan itu bahkan melanjutkan tren yang sudah dimulai sejak era Biden pada akhir 2022.

Manurut laporan dari HuffPost, tidak satu pun komoditas energi yang spesifik disebut Trump dalam kampanye turun separuhnya. Listrik naik lebih dari 7 persen, gas alam naik 87 persen, dan indeks harga energi rumah tangga secara keseluruhan naik 6,6 persen.

"Dia berbohong. Lagipula ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan presiden. Dia tahu itu," kata Justin Wolfers, ekonom Universitas Michigan, kepada HuffPost. Pernyataan itu muncul di tengah tekanan publik yang terus meningkat seiring harga bensin yang tidak menunjukkan tanda-tanda melandai.

Gedung Putih memilih jalur lain untuk merespons tekanan itu. Juru bicara Karoline Leavitt menjanjikan harga akan turun begitu operasi militer selesai.

"Begitu tujuan keamanan nasional dari Operasi Epic Fury tercapai sepenuhnya, warga Amerika akan melihat harga minyak dan gas turun dengan cepat, bahkan berpotensi lebih rendah dari sebelum operasi ini dimulai," kata Leavitt.

Para ahli tidak berbagi optimisme yang sama. Serangan yang berlangsung dilaporkan sudah merusak infrastruktur minyak regional, dan ancaman penutupan jalur maritim masih membayangi pasar energi global.

Baca Juga: Dampak Perang Iran di Luar Dugaan, Tim Energi Trump Disebut Harus Cari Cara untuk Menekan Harga Minyak

Konteks yang membuat semua ini lebih dari sekadar perdebatan energi adalah kalender politik. Pemilu midterm AS dijadwalkan November 2026 dan harga bensin secara historis adalah salah satu indikator paling konsisten dalam mempengaruhi hasil pemilu.

Biden kehilangan banyak dukungan sebagian karena harga bensin melonjak pasca-invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Trump kini berada di posisi yang serupa, dengan satu perbedaan mendasar: perang yang memicu lonjakan ini adalah perangnya sendiri.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: