Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

HSG Sempat Anjlok ke Level 6.900, Tertekan Tensi AS-Iran dan Libur Panjang

HSG Sempat Anjlok ke Level 6.900, Tertekan Tensi AS-Iran dan Libur Panjang Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah ke level 7.115,45 pada perdagangan Senin, 16 Maret 2026. Mengacu data RTI pada pukul 09.05 WIB, IHSG makin loyo dengan koreksi 150,13 poin atau -2,10% ke level 6.987,08 dengan titik terendah berada di level 6.917,32.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah menilai tekanan indeks dibayangi perdagangan singkat pada pekan ini yang hanya berlangsung selama 2 hari bursa 16-17 Maret 2026 karena libur panjang Nyepi dan Idulfitri.

Ia memprediksi pergerakan IHSG akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah, seiring masih dominannya sentimen eksternal yang membayangi pasar.

"Ketidakpastian global masih dipicu oleh eskalasi tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang hingga saat ini belum menunjukkan tanda de-eskalasi atau titik terang menuju perdamaian," kata dia dalam analisanya, Senin (16/3/2026).

Selama konflik tersebut masih berlangsung, kata Hari, volatilitas pasar global diperkirakan tetap tinggi karena investor cenderung mengadopsi sikap risk-off. 

Sementara dari sisi domestik, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah terkait upaya menjaga defisit APBN agar tetap terkendali, yang menjadi indikator penting bagi investor asing dan domestik dalam menilai stabilitas makroekonomi Indonesia.

Ia menambahkan selain itu, faktor musiman menjelang libur panjang Lebaran berpotensi membuat aktivitas transaksi pasar relatif lebih terbatas, dengan sebagian investor cenderung menahan diri untuk mengambil posisi baru hingga periode libur berakhir. 

Dalam kondisi pasar yang masih diliputi ketidakpastian ini, investor disarankan untuk lebih selektif dalam memilih saham, memprioritaskan emiten dengan fundamental kuat, arus kas stabil, serta eksposur yang relatif defensif terhadap volatilitas global. 

"Strategi smart money wait and see, menjaga porsi kas yang lebih tinggi, serta melakukan akumulasi bertahap pada area support dapat menjadi pendekatan yang lebih prudent sambil menunggu kejelasan perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan fiskal domestik," jelas dia.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menambahkan, IHSG pada pekan perdagangan singkat bursa berpotensi mixed to lower setelah membentuk pola long black marubozu candle. Di sisi lain, Stochastics K_D and RSI menunjukkan sinyal negatif, namun volume mulai menguat.

Berdasarkan laporan Reuters, Pemerintahan Donald Trump telah menolak upaya para mediator untuk memulai pembicaraan gencatan senjata dengan Iran, sementara Teheran juga menolak kemungkinan gencatan senjata sampai serangan AS dan Israel berhenti. 

Hal ini memicu kenaikan harga minyak global dan meningkatnya risk aversion di pasar keuangan. Perang AS-Iran ini berefek terhadap ekonomi Indonesia dimana salah satunya ialah membuat defisit APBN. 

"Jika dibiarkan melebar lebih dari 3% dengan mengubah ambang batas defisit, maka kepercayaan investor bisa menurun," ujarnya terpisah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri