Profil Andrie Yunus, Aktivis HAM dan Wakil Koordinator KontraS yang Jadi Korban Penyiraman Air Keras
Kredit Foto: Istimewa
Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus pada Jumat malam (13/3/2026) menjadi korban penyiraman air keras usai, banyak pihak menyebut tindakan itu adalah teror untuk membungkam pembela hak asasi manusia.
Ditambah aksi penyiraman air keras itu dilakukan usai Andrie menyelesaikan perekaman siniar di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia sekitar pukul 23.00 WIB. Siniar tersebut membahas isu "Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia".
Lalu siapa Andrie Yunus?
Andrie Yunus dikenal sebagai advokat, pengacara publik, sekaligus aktivis hak asasi manusia yang aktif mengadvokasi berbagai kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Ia saat ini menjabat sebagai Wakil Koordinator Bidang Eksternal di Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan.
Dikutip dari Wikipedia, Andrie Yunus lahir pada 16 Juni 1998. Ia menempuh pendidikan menengah di SMA Negeri 1 Cicurug, Jawa Barat, dan pernah menjabat sebagai Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) pada periode 2014–2015.
Setelah lulus dari sekolah menengah, Andrie melanjutkan studi hukum di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera dengan minat pada hukum tata negara dan legisprudensi.
Ia meraih gelar Sarjana Hukum pada Agustus 2020 dengan skripsi yang membahas peran paralegal dalam mewujudkan persamaan di hadapan hukum.
Saat berkuliah, Andrie aktif dalam kegiatan organisasi mahasiswa. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STH Indonesia Jentera pada periode 2018–2019.
Karier Andrie di bidang advokasi hukum dimulai melalui berbagai pelatihan bantuan hukum. Pada 2019, ia mengikuti pelatihan bantuan hukum struktural dan gender yang diselenggarakan oleh Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan.
Ia juga mengikuti program Karya Latihan Bantuan Hukum (Kalabahu) di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta serta pelatihan paralegal dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia.
Setelah lulus kuliah, Andrie bekerja sebagai Asisten Pengabdi Bantuan Hukum di LBH Jakarta hingga Januari 2022. Ia kemudian memperoleh lisensi advokat dari Perhimpunan Advokat Indonesia pada November 2023 dan juga mengikuti program Anti-Corruption Academy yang diselenggarakan oleh IM57+ Institute pada Juni 2023.
Pada Maret 2022, Andrie bergabung dengan KontraS sebagai pengacara publik. Di organisasi tersebut, ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Divisi Advokasi HAM pada September 2023 sebelum kemudian diangkat menjadi Wakil Koordinator Bidang Eksternal pada Februari 2025.
Selama berkiprah di KontraS, Andrie terlibat dalam berbagai investigasi kasus pelanggaran HAM, termasuk kasus pembunuhan dan mutilasi warga sipil di Timika, Papua Tengah, kasus kerangkeng manusia di Langkat, Sumatera Utara, serta penembakan demonstran dalam konflik lahan di Seruyan, Kalimantan Tengah.
Namanya juga dikenal luas setelah terlibat dalam aksi penolakan revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI). Pada 3 Maret 2025, ia bersama Koalisi Masyarakat Sipil Reformasi Sektor Keamanan mengajukan permohonan informasi publik terkait naskah revisi UU TNI kepada Komisi I DPR.
Namun permohonan tersebut tidak mendapat tanggapan. Pada 15 Maret 2025, Andrie bersama sejumlah aktivis kemudian melakukan aksi protes di Hotel Fairmont Jakarta yang saat itu menjadi lokasi rapat tertutup antara Komisi I DPR dan perwakilan pemerintah mengenai revisi UU TNI.
Aksi tersebut sempat dihentikan oleh pihak keamanan hotel, dan satuan pengamanan Hotel Fairmont kemudian melaporkan Andrie ke Polda Metro Jaya dengan tuduhan mengganggu ketertiban umum.
Dalam proses uji materi revisi UU TNI di Mahkamah Konstitusi, Andrie juga mengungkap sejumlah intimidasi yang ia alami setelah aksi protes tersebut. Ia mengaku menerima telepon dari berbagai nomor tidak dikenal serta mendapati sejumlah orang tak dikenal mendatangi kantor KontraS dengan mengaku sebagai jurnalis.
Andrie juga terlibat dalam pembentukan Komisi Pencari Fakta yang dibentuk oleh KontraS, LBH Jakarta, dan YLBHI untuk menyelidiki rangkaian demonstrasi dan kerusuhan yang terjadi pada Agustus hingga September 2025.
Kini Andrie mengalami luka bakar pada sejumlah bagian tubuh, termasuk mata, wajah, dada, dan tangan. Ia kemudian menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat