Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Soal Opsi WFH Guna Tekan BBM, Bahlil Bilang Begini

Soal Opsi WFH Guna Tekan BBM, Bahlil Bilang Begini Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara terkait opsi penerapan kebijakan work from home (WFH), guna menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah gejolak konflik di Timur Tengah.

Sejumlah negara di kawasan seperti Vietnam dan Thailand telah menerapkan WFH, serta mengimbau masyarakat menghemat penggunaan BBM.

“Apakah kita butuhkan WFH? Tetapi menurut saya, semua kemungkinan itu bisa terjadi."

"Yang penting adalah penghematan terhadap BBM itu juga penting."

"Di samping memang kita menghemat impor, itu juga menghemat pengeluaran bagi seluruh masyarakat yang ada di Indonesia,” ujar Bahlil usai melepas keberangkatan Mudik Bareng sektor ESDM di Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Meski mengkaji opsi tersebut, Bahlil menyebut kemungkinan besar kebijakan WFH tidak akan diterapkan di Indonesia.

Sebab, kondisi stok energi nasional masih dalam posisi mencukupi.

Ia juga meminta masyarakat tidak melakukan panic buying di tengah situasi global saat ini.

“Jadi insyaallah kita tidak akan memakai pola-pola seperti negara lain, yang kita juga tahu kebutuhan rakyat apa, itu negara hadir," jelasnya. 

Upaya menjaga keandalan pasokan energi domestik terus dilakukan, salah satunya melalui diversifikasi sumber impor minyak mentah.

Saat ini, sekitar 20% impor minyak Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah.

Seiring meningkatnya eskalasi konflik, pemerintah mulai mengalihkan sumber impor ke negara lain seperti Amerika Serikat, Afrika, dan Brasil.

Opsi impor juga terus dibuka, termasuk dari Rusia dan Brunei Darussalam.

“Semua negara ada kemungkinan (kita impor crude)."

"Yang penting bagi kita sekarang adalah bagaimana barangnya ada, yang kedua harganya kompetitif. Itu yang paling penting,” tuturnya.

Sementara, Ketua Satuan Tugas Posko Ramadan dan Idulfitri (RAFI) 1447 H Erika Retnowati mengatakan, ketahanan stok BBM saat ini berada pada kisaran 17 hingga 23 hari.

Terkait suplai dan distribusi BBM, berdasarkan rapat koordinasi selama periode posko, BPH Migas bersama Pertamina menyiagakan 125 terminal BBM, 7.885 SPBU, serta 72 Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU), termasuk fasilitas tambahan di wilayah dengan permintaan tinggi.

“Secara umum kondisi ketahanan stok BBM aman, baik gasoline, gasoil, kerosene maupun avtur."

Proyeksi dinamika kebutuhan BBM selama periode posko ini diperkirakan gasoline akan naik sekitar 12% dari kondisi normal, sedangkan gasoil akan turun sekitar 14,5% dari kondisi normal."

"Adapun avtur diperkirakan akan naik 2,8%, dan kerosene naik 4,2%,” ungkap Erika dalam konferensi pers Posko Nasional Ramadan dan Idulfitri 2026 di BPH Migas, Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Sementara, stok LPG berada pada kisaran 12 hingga 15 hari untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode RAFI.

Baca Juga: Prabowo Pertimbangkan WFH untuk Tekan Konsumsi BBM, Ini Negara Asia yang Sudah Menerapkannya

Kementerian ESDM melalui Ditjen Migas bersama Pertamina menyiagakan 40 terminal LPG, 757 SPBE, serta 6.662 agen LPG di berbagai wilayah.

“Proyeksi penyaluran LPG selama periode posko diprediksi mengalami kenaikan sekitar 4% jika dibandingkan dengan rata-rata penyaluran normal,” terang Erika. (*)

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus