Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar
1. Likuiditas Rendah
Sebagian saham konglo memiliki likuiditas rendah karena jarang diperdagangkan. Kondisi ini menyulitkan investor untuk keluar atau masuk pasar dengan cepat sesuai kebutuhan.
2. Potensi Manipulasi Harga
Dengan kepemilikan yang terkonsentrasi, saham konglo berisiko mengalami praktik price control atau manipulasi harga oleh pihak tertentu. Akibatnya, pergerakan harga tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental perusahaan.
3. Risiko Kerugian Cepat
Volatilitas tinggi pada sebagian saham konglo dapat menyebabkan harga turun drastis dalam waktu singkat. Hal ini berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi investor yang tidak siap menghadapi fluktuasi pasar.
Cara Mengenali Saham Konglo Sebelum Membeli
1. Identifikasi Kepemilikan Perusahaan
Investor dapat memeriksa apakah perusahaan tersebut merupakan bagian dari grup konglomerat besar. Biasanya perusahaan dimiliki oleh keluarga atau individu dengan banyak anak usaha lintas sektor, seperti Grup Salim, Djarum, Sinar Mas, Astra.
2. Analisis Diversifikasi Usaha
Konglomerat umumnya memiliki bisnis di berbagai sektor seperti perbankan, energi, properti, ritel, hingga makanan. Jika perusahaan berada dalam jaringan usaha yang luas, besar kemungkinan sahamnya termasuk kategori konglo.
3. Cek Kapitalisasi dan Likuiditas
Saham konglo sering masuk kategori big cap atau blue chip, namun ada juga yang memiliki kapitalisasi lebih kecil. Karena itu, investor perlu memperhatikan likuiditas, apakah saham tersebut aktif diperdagangkan atau justru jarang bergerak.
Baca Juga: Daftar Saham Korporasi AI 2026 yang Paling Dilirik Investor
4. Telusuri Reputasi Pemilik
Nama besar pemilik atau grup bisnis biasanya menjadi indikator kuat dalam menentukan saham konglo. Investor cenderung lebih percaya pada saham yang dikendalikan oleh konglomerat dengan rekam jejak panjang.
5. Perhatikan Informasi Fundamental
Investor sebaiknya memastikan bahwa laporan keuangan dan informasi perusahaan disajikan secara transparan. Sebab, ada sejumlah saham konglo yang minim informasi, sehingga menyulitkan analisis kinerja perusahaan secara objektif.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: