Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Melansir CNN, Trump bahkan sempat mengancam negara-negara pembeli minyak Rusia dengan tarif besar.
Sebelum memberi waiver ke India, pemerintahannya lebih dulu menjatuhkan ancaman tarif 50 persen serta sanksi terhadap perusahaan minyak Rusia Lukoil dan Rosneft. Indonesia, hingga kini, belum melalui proses negosiasi serupa dengan Washington.
Kondisi itulah yang tampaknya sudah diantisipasi Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung empat hari sebelum pernyataan Bahlil muncul.
"Itu kan keputusan bisnis itu nanti sama Pertamina. Jadi mana yang lebih membutuhkan, sepanjang ada relaksasi ya tentu kita akan memanfaatkan itu prosesnya," ujar Yuliot pada Jumat (13/3).
Frasa "sepanjang ada relaksasi" menjadi kunci, karena pelonggaran sanksi global yang memungkinkan Indonesia bebas membeli minyak Rusia sampai saat ini belum ada.
Sementara daya tarik harganya memang nyata: G7 dan Uni Eropa membatasi harga beli minyak Rusia di 60 dolar AS atau sekitar Rp984.000 per barel, jauh di bawah harga minyak Brent yang kini berada di kisaran 87 hingga 100 dolar AS atau Rp1.426.800 hingga Rp1.640.000 per barel.
Baca Juga: Bahlil Sebut APBN Tetap Tangguh Meski Harga Minyak Tembus US$100
Selisih harga itulah yang membuat banyak negara tertarik di tengah tekanan pasokan global. Namun stok yang tersedia pun terbatas pada minyak yang sudah telanjur mengapung di lautan, bukan pasokan jangka panjang yang bisa diandalkan.
Pertamina sebagai penentu keputusan di lapangan belum memberikan pernyataan resmi soal rencana pembelian minyak Rusia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: