Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rusia Peringatkan Dampak Panjang Perang Iran, tapi Dunia Soroti Posisinya di Ukraina

Rusia Peringatkan Dampak Panjang Perang Iran, tapi Dunia Soroti Posisinya di Ukraina Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Peringatan keras disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, terkait perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang dinilai akan membawa dampak jangka panjang. Di saat yang sama, dunia justru menyoroti posisi Rusia yang masih terjebak dalam konflik berkepanjangan di Ukraina.

Dalam wawancara dengan media Rusia, Lavrov menilai operasi militer terhadap Iran berpotensi menciptakan krisis global yang tidak mudah dikendalikan. Ia menyebut dampaknya tidak hanya bersifat regional, tetapi juga akan berlangsung lama.

“Apa yang dilakukan rekan-rekan Amerika kami bersama Israel akan memiliki konsekuensi yang sangat buruk, dan dampaknya akan berlangsung dalam waktu yang sangat lama,” tegasnya dikutip dar TASS.

Lavrov juga menuding Washington dan Tel Aviv melakukan kesalahan perhitungan dalam membaca respons Iran. Menurutnya, asumsi bahwa konflik bisa diselesaikan dalam waktu singkat adalah kekeliruan besar.

“Jika mereka pikir mereka bisa menundukkan Iran dalam sehari atau beberapa jam, mereka mungkin sekarang menyadari betapa seriusnya kesalahan perhitungan mereka,” kata Lavrov.

Namun, kritik tersebut memunculkan ironi tersendiri di mata publik global. Rusia sendiri masih menghadapi perang di Ukraina yang telah berlangsung lama tanpa kepastian akhir.

Konflik tersebut menjadi latar yang membuat pernyataan Lavrov dipandang kontradiktif oleh sebagian pengamat. Dunia menilai Rusia juga pernah menghadapi situasi serupa dalam ekspektasi perang jangka pendek.

Di balik polemik tersebut, Lavrov menyampaikan kekhawatiran yang lebih substansial terkait risiko proliferasi nuklir. Ia menilai perang justru dapat memicu negara-negara lain mengembangkan senjata nuklir sebagai bentuk perlindungan.

“Tujuan mulia yang tampaknya paradoks, memulai perang untuk mencegah proliferasi senjata nuklir, justru bisa merangsang tren yang sepenuhnya berlawanan,” ujarnya. 

Lavrov juga menyinggung peran lembaga internasional seperti International Atomic Energy Agency yang sebelumnya tidak menemukan bukti Iran tengah mengembangkan senjata nuklir. Hal ini memperkuat argumennya bahwa perang dapat memperburuk situasi global.

Dalam forum internasional, Rusia bersama China disebut telah mendorong pembahasan di Dewan Keamanan PBB. Namun, Lavrov mengakui bahwa langkah tersebut memiliki keterbatasan.

“AS, sebagai anggota tetap Dewan Keamanan, tentu tidak akan mengizinkan adopsi keputusan apa pun yang bertentangan dengan kepentingannya,” ujarnya.

Sebelumnya, Rusia juga menyatakan akan melakukan berbagai upaya untuk menghentikan konflik tersebut. Namun hingga kini, langkah yang diambil masih terbatas pada jalur diplomasi dan pernyataan politik.

Di sisi lain, dampak perang mulai terasa secara nyata di berbagai sektor global. Gangguan distribusi energi hingga lonjakan harga bahan bakar terjadi di banyak negara.

Baca Juga: Rusia Bantu Iran Targetkan Pasukan AS, Sinyal Perang Proksi Memanas

Penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz semakin memperparah tekanan terhadap pasar energi dunia. Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik telah melampaui batas kawasan.

Korban jiwa yang terus bertambah serta ketidakpastian geopolitik menunjukkan bahwa peringatan Lavrov bukan tanpa dasar. Namun dalam konteks global, pernyataan tersebut tetap dibayangi oleh posisi Rusia dalam konflik lain yang belum terselesaikan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Belinda Safitri