Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, pemerintah membuka peluang relaksasi yang terukur, dalam memberikan kuota produksi batu bara dan nikel yang tercantum dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara dan nikel, bila harga komoditas di pasar global menunjukkan tren positif.
Bahlil menjelaskan, lewat instrumen ini diharapkan keseimbangan antara pasokan dan permintaan (penawaran dan permintaan) dapat terjadi, sehingga harga komoditas mineral dan bara Indonesia tetap kompetitif dan tidak jatuh karena kelebihan pasokan.
“Kalau harganya bagus terus, kita akan memproduksi juga lebih banyak, tetapi kalau harga turun, kita akan menyesuaikan dengan permintaan di pasar."
"Jadi supply dan demand sebagai instrumen untuk menjaga keseimbangan," terangnya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Meski begitu, hingga saat ini RKAB batu bara dan nikel belum ada perubahan.
RKAB batu bara 2026 masih direncanakan sekitar 600 juta ton, dan nikel dalam rentang 260-270 juta ton.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus