- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Bahlil Akui RI Sudah Impor 770 Ribu Barel Minyak dari Rusia Tahap Pertama
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengabarkan bahwa impor minyak asal Rusia tahap pertama telah dilakukan. Bahlil mengonfirmasi impor tersebut dilaksanakan oleh Badan Layanan Umum (BLU) di sektor minyak dan gas bumi, yakni Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).
Melansir Bloomberg News, minyak dengan volume 770 ribu barel telah dikirim dari Negeri Beruang Merah ke Indonesia pada 29 Juni 2026, dengan nilai sekitar US$75 juta.
''Tahap pertama sudah dilakukan oleh Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kenapa ada operator-operator yang protes ke kamu? Sudah kita lakukan tahap pertama dilakukan oleh Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan diperintahkan lewat Lemigas,'' ujar Bahlil dalam gelaran Global Hydrogen Ecosystem Summit di Jakarta Convention Center, Selasa (21/7/2026).
Sebelumnya, Bahlil mengungkapkan bahwa total impor minyak Rusia direncanakan mencapai 150 juta barel. Menurutnya, impor tersebut dibutuhkan untuk memastikan ketahanan energi dan menjaga ketersediaan bahan bakar minyak nasional.
''Kita lagi butuh Indonesia, pemerintah dalam hal ini Menteri ESDM berkepentingan untuk menjaga stok cadangan daripada BBM kita. Saya nggak mau pusing mau ambil dari mana yang penting tidak melanggar aturan. Titik,'' katanya.
Meski demikian, Bahlil enggan mengungkapkan harga minyak yang diperoleh Indonesia dari Rusia.
''Udah jangan tanya hargalah yang jelas lebih baik,'' tutupnya.
Baca Juga: Pertamina Optimalkan Potensi Sawit dan Limbahnya untuk Substitusi Impor BBM
Baca Juga: Soal Solar, Indonesia Tak Akan Impor Lagi dan Rusia Tak Akan Ekspor
Bahlil sebelumnya juga menyebut bahwa impor tersebut dilakukan melalui skema antarpemerintah atau government to government (G2G), bukan business to business (B2B). Ia menegaskan kontrak impor minyak Rusia akan tetap dilanjutkan meskipun beredar kabar bahwa negara tersebut tengah membatasi ekspor solar untuk memastikan ketersediaan pasokan domestiknya.
''Tidak (terdampak), kita kan sudah ada deal antara g2g dengan presiden putin dan presiden prabowo dan saya kan sudah melakukan komunikasi dengan menteri esdm rusia,'' ujar Bahlil dalam Energy Forum di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra