Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Harga Emas Naik atau Turun? Ini Proyeksi Terbaru Pekan Ini

Harga Emas Naik atau Turun? Ini Proyeksi Terbaru Pekan Ini Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga emas global diperkirakan bergerak fluktuatif dalam sepekan ke depan dengan kecenderungan menguat, di tengah tekanan geopolitik dan pelemahan nilai tukar rupiah. Dalam proyeksi terbaru, harga emas berpotensi bergerak di rentang Rp4,13 juta hingga Rp4,91 juta per troy ounce, dengan peluang mendekati level psikologis Rp5 juta. 

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan pergerakan emas dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan dinamika pasar energi.

“Kalau harga emas dunia terkoreksi, dalam hari Senin kemungkinan besar di Rp4.363.000 per troy ounce. Kemudian dalam satu minggu turun kemungkinan besar itu di Rp4.138.000,” ujar Ibrahim. 

Ia menambahkan, skenario penguatan tetap terbuka jika tekanan geopolitik meningkat, dengan target resistensi terdekat berada di level Rp4,66 juta per troy ounce.

“Kalau seandainya naik, itu nanti akan menyentuh di level Rp4.666.000 per troy ounce. Kemudian naik lagi di resistensi kedua di Rp4.912.000,” katanya. 

Untuk pasar domestik, harga logam mulia diperkirakan bergerak di kisaran Rp2,75 juta hingga Rp2,92 juta per gram. Ibrahim menilai level Rp3 juta per gram belum akan tercapai dalam waktu dekat, namun berpotensi ditembus pada pekan berikutnya.

“Logam mulia untuk menyentuh di level Rp3.000.000 kemungkinan besar tidak akan terjadi minggu depan, akan terjadi di minggu berikutnya,” ujarnya. 

Data terbaru menunjukkan harga emas sebelumnya ditutup di Rp4,495 juta per troy ounce, dengan harga logam mulia domestik sebesar Rp2,837 juta per gram. Pergerakan harga masih berpotensi terkoreksi dalam jangka pendek sebelum melanjutkan tren kenaikan. 

Menurut Ibrahim, faktor utama yang mendorong volatilitas harga emas saat ini adalah konflik geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada pasar energi global.

“Tetap di sini adalah masalah geopolitik. Geopolitik di Timur Tengah ini pun juga masih ramai,” ujarnya.

Kenaikan harga minyak mentah turut memperkuat tekanan inflasi global. Harga crude oil diproyeksikan berada di kisaran US$92 hingga US$112 per barel, sementara Brent crude di rentang US$110 hingga US$116 per barel dengan tren menguat. 

Baca Juga: Prediksi Gila Kiyosaki Usai Krisis! Bitcoin Tembus US$750 Ribu, Emas Sentuh US$35 Ribu

Baca Juga: Analis Sebut Perang Darat Iran-AS Bisa Jadi Penentu Nasib Harga Emas Dunia

Di sisi lain, indeks dolar AS diperkirakan bergerak di rentang 99,3–101,6 dengan kecenderungan menguat. Kondisi ini berpotensi menahan kenaikan emas global, namun pelemahan rupiah yang diproyeksikan menuju Rp17.100 per dolar AS dapat menopang harga emas domestik tetap tinggi. 

Selain faktor eksternal, permintaan emas juga ditopang oleh aksi pembelian bank sentral global yang terus meningkatkan cadangan emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi.

Dalam jangka panjang, Ibrahim tetap optimistis tren kenaikan emas akan berlanjut.

“Target saya itu tahun ini tetap di Rp6.000.000 per troy ounce, kemudian logam mulianya saya masih optimis di Rp4.000.000 per gram,” ujarnya.  

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: