Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Walau Selat Hormuz Ditutup, Trump Pertimbangkan Akhiri Perang Iran dan Amerika Serikat

Walau Selat Hormuz Ditutup, Trump Pertimbangkan Akhiri Perang Iran dan Amerika Serikat Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat dilaporkan mempertimbangkan untuk segera mengakhiri perangnya dengan Iran. Ia bahkan disebut akan mengakhiri operasinya, meski adanya penutupan dari Selat Hormuz di Timur Tengah.

Dikutip dari Wall Street Journal, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump ilaporkan mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militernya meskipun jalur vital energi global masih belum sepenuhnya dibuka oleh Trump.

Baca Juga: Dampak Perang Iran, Harga Bensin Sampai Tembus Rp68.000 di Amerika Serikat

Menurut laporan, opsi tersebut membuka kemungkinan bahwa pembukaan kembali jalur pelayaran akan ditangani pada tahap berikutnya, terpisah dari penghentian konflik militer dari Amerika Serikat dan Iran.

Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa pihaknya tengah bernegosiasi dengan rezim yang lebih rasional di Iran. Namun memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan berujung pada serangan besar.

"Kemajuan besar telah dicapai, tetapi jika karena alasan apa pun kesepakatan tidak segera tercapai, yang kemungkinan besar akan terjadi," ungkap Trump di Truth Social.

Namun Trump juga kembali mengeluarkan ancaman keras terkait konflik yang masih berlangsung dengan Iran. Ia mengancam akan menghancurkan berbagai fasilitas vital negara tersebut jika tak ada pembukaan dari Selat Hormuz.

Trump mengatakan bahwa pihaknya akan menghancurkan pembangkit listrik, sumur minyak, sumber air bersih hingga pusat ekspor minyak dari Iran, Kharg Island.

"Jika Selat Hormuz tidak segera dibuka untuk bisnis, kami akan mengakhiri 'kunjungan' kami yang menyenangkan dengan meledakkan dan melenyapkan sepenuhnya semua pembangkit listrik, sumur minyak dan Pulau Kharg," tegas dari Trump.

Strait of Hormuz atau Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar dua puluh persen pasokan minyak dunia. Penutupan jalur ini telah memicu kekhawatiran global terkait pasokan energi dan stabilitas ekonomi.

Trump sebelumnya memberi jeda serangan terhadap fasilitas energi dari negara tersebut selama sepuluh hari, yang dijadwalkan berakhir pada awal April. Meski mengklaim adanya kemajuan dalam negosiasi, ia secara bersamaan terus mengirim pasukan tambahan ke Timur Tengah.

Terbaru, Amerika Serikat mulai mengerahkan ribuan pasukan tambahan, termasuk 82nd Airborne Division. Ia merupakan pasukan elite yang dapat membuka berbagai opsi dalam perang untuk Trump.

Baca Juga: Negosiasi Berjalan, Amerika Serikat Bilang Iran Bohong ke Publik

Pasukan yang dikerahkan mencakup elemen markas, unit logistik serta satu brigade tempur lengkap. ia juga akan melengkapi ribuan personal marinir yang telah dikirimkan oleh Washington. Kini Timur Tengah memiliki ribuan pasukan dari angkatan laut, pasukan khusus dan unit lainnya dari Amerika Serikat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement