- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
IHSG Sesi Siang Ambles 1,25% ke 7.094, BREN, ADMR dan BRPT Top Losers LQ45
Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mencetak rapor merah pada akhir sesi pertama perdagangan Kamis, 2 April 2026. Berdasarkan data RTI, IHSG ambles 89,91 poin atau -1,25% ke level 7.094,52.
Pada perdagangan pagi tadi, IHSG sempat jatuh ke titik yang lebih dalam di level 7.079,93. Sementara titik tertingginya berada pada level 7.161,79.
Pergerakan saham pada siang hari ini didominasi tren negatif. Sebanyak 433 saham merosot, 227 saham menanjak dan 151 saham mendatar.
Sembilan sektor melemah, infrastruktur melorot -2,88%, bahan baku -2,87%, industrial -2,09%, teknologi -1,75%, energi -1,06%, transportasi -0,82%, properti -0,61%, keuangan -0,42%, kesehatan -0,17%.
Sementara yang menguat hanya sektor barang konsumen non primer dan primer masing-masing dengan kenaikan 1,72% dan 0,04%.
Hingga pertengahan hari ini, IHSG sudah membukukan nilai transaksi Rp6,89 triliun. Hal itu diperoleh dari adanya perdagangan 14,49 miliar lembar saham dengan frekuensi 1.037.687 kali.
Ditinjau dari indeks LQ45, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi saham top losers dengan penurunan -6,82% ke Rp5.125. Disusul PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang ambruk -5,47% ke Rp1.900 dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang terkoreksi -5,14% ke Rp1.385.
Di posisi saham top gainers ada PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang melesat 3,6% ke Rp1.295, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menguat 3,35% ke Rp1.390 dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang terapresiasi 3,06% ke Rp10.950.
Pelemahan indeks terjadi setelah pidato Donald Trump pagi ini (malam waktu Washington DC) yang kembali mengancam Iran dan tak memberi kejelasan kapan aksi militer AS di Teluk berakhir.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menilai isu ini akan mempengaruhi pergerakan saham energi.
"Emiten migas dan coal perlu diperhatikan sejalan dengan pergerakan harga komoditas yang masih fluktuatif akibat tensi geopolitik Iran vs US," katanya.
Dari pasar domestik, Imam mengatakan Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur turun ke 50,2 poin dari bulan sebelumnya 53,8 poin. Menurut Imam, pelemahan ini lebih bersifat musiman.
"Pelemahan tidak lepas dari adanya tensi geopolitik dan libur panjang menjelang hari raya. Aktivitas manufaktur menurun, namun ini faktor musiman saja," jelas Imam.
Baca Juga: Emiten Hary Tanoe (MSIN) Buka Suara Soal Rencana Dual Listing di Bursa Luar Negeri
Baca Juga: Emiten Haji Isam (TEBE) Tebar Dividen Rp156 per Saham, Cek Jadwalnya!
Sementara itu, inflasi Indonesia pada Maret 2026 tercatat 3,48 persen, kembali berada dalam rentang target pemerintah. Di sisi lain neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar USD1,28 miliar.
"Inflasi sudah mulai terkendali di level 2,5 persen plus minus 1 persen," tambah Imam.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait:
Advertisement