Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dari Listrik hingga Air, Hacker Iran Targetkan Infrastruktur Amerika Serikat

Dari Listrik hingga Air, Hacker Iran Targetkan Infrastruktur Amerika Serikat Kredit Foto: Unsplash/Stillness InMotion
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Keamanan Siber dan Intelijen Amerika Serikat memperingatkan peningkatan signifikan serangan siber yang diduga berasal dari Iran. Hal ini menyusul perang kedua negara yang belum usai di Timur Tengah.

Federal Bureau of Investigation, National Security Agency, dan Cybersecurity and Infrastructure Security Agency melaporkan bahwa serangan tersebut menyasar berbagai sektor infrastruktur kritis. Serangan difokuskan pada perangkat seperti programmable logic controllers (PLC) dan sistem dari SCADA.

Baca Juga: Gegara Israel, Gencatan Senjata Iran dan Amerika Serikat Terancam Batal

Sistem tersebut digunakan untuk mengontrol dan memantau infrastruktur penting. Perangkat ini berperan dalam pengoperasian sektor energi, air, dan fasilitas publik lainnya.

Menurut laporan resmi, beberapa serangan telah menyebabkan gangguan operasional dan kerugian finansial. Peretas juga diketahui memanipulasi data tampilan sistem serta mencuri data proyek dari perangkat yang disusupi.

"Para peretas berupaya menimbulkan dampak yang mengganggu di Amerika Serikat. Dalam beberapa kasus, aktivitas ini telah mengakibatkan gangguan operasional dan kerugian finansial," demikian bunyi laporan tersebut.

Serangan menargetkan berbagai sektor strategis, termasuk layanan pemerintah dan fasilitas publik, sistem air dan limbah dan infrastruktur energi. Target-target ini menunjukkan potensi risiko besar terhadap layanan dasar masyarakat.

Otoritas Amerika Serikat menilai bahwa serangan ini bertujuan menciptakan gangguan dalam negeri dan menekan stabilitas. Dengan meningkatnya kompleksitas ancaman, perlindungan terhadap infrastruktur kritis menjadi prioritas utama.

Peningkatan aktivitas siber ini terjadi di tengah memanasnya konflik geopolitik, termasuk ancaman militer dan ketegangan antara dari Iran dan Amerika Serikat. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa serangan tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga di ranah digital.

Terbaru, Pakistan mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu yang akan dilakukan oleh Iran dan Amerika Serikat. Pihaknya siap menjadi mediator kedua negara untuk mendiskusikan perdamaian secara permanen demi keamanan di Timur Tengah.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan bahwa kedua negara telah menyepakati gencatan senjata yang berlaku segera dalam seluruh wilayah konflik, termasuk di Lebanon. Pengumuman ini menandai perkembangan penting dalam upaya meredakan konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan.

“Dengan senang hati saya mengumumkan bahwa kedua negara, bersama sekutu-sekutunya, telah sepakat untuk gencatan senjata segera di mana pun dalam kawasan, termasuk di Lebanon,” katanya.

Baca Juga: Australia Kritik Retorika Trump ke Iran: Tidak Pantas Diucapkan Presiden Amerika Serikat

Sharif juga mengonfirmasi bahwa pihaknya akan menjadi lokasi perundingan lanjutan antara kedua pihak. Iran dan Amerika Serikat diundang untuk hadir dalam pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung pada 10 April 2026. Negosiasi pada hari itu dilakukan guna mencapai kesepakatan final yang menyelesaikan seluruh perselisihan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar