Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IRGC Tak Percaya Gencatan Senjata, Konflik Iran-AS Belum Usai

IRGC Tak Percaya Gencatan Senjata, Konflik Iran-AS Belum Usai Kredit Foto: Reuters/WANA/IRGC
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di tengah pengumuman gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat, sinyal berbeda justru datang dari militer Iran yang menunjukkan sikap tidak percaya terhadap komitmen tersebut. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kesepakatan damai belum sepenuhnya diikuti oleh keyakinan di lapangan.

Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menegaskan tetap berada dalam posisi siaga penuh menghadapi segala kemungkinan serangan. Mereka bahkan menekankan bahwa respons terhadap agresi akan dilakukan tanpa kompromi.

"Para pelindung bangsa Iran yang tanpa pamrih kini telah melaksanakan perintah Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei. Kami tidak percaya pada janji. Kami akan menanggapi setiap agresi, bahkan di tingkat yang lebih tinggi," demikian pernyataan IRGC dikutip dari Sputnik.

Pernyataan tersebut mencerminkan adanya jarak antara keputusan diplomatik dan sikap militer di lapangan. Gencatan senjata yang diumumkan tidak serta-merta menghapus kecurigaan yang telah terbentuk selama konflik berlangsung.

Alih-alih meredakan aktivitas militer, IRGC justru melanjutkan operasi berskala besar melalui gelombang ke-100 Operasi True Promise 4. Serangan ini menyasar lebih dari 25 target strategis yang tersebar di kawasan Timur Tengah.

Sejumlah fasilitas energi menjadi sasaran utama dalam operasi tersebut, termasuk aset milik perusahaan Amerika Serikat di berbagai negara. Target yang diserang mencakup instalasi milik ExxonMobil dan Dow Chemical di Arab Saudi serta fasilitas energi lain di Qatar dan kawasan Teluk.

Selain itu, IRGC juga menargetkan infrastruktur energi di Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Serangan terhadap fasilitas minyak dan gas ini menunjukkan bahwa konflik telah bergeser ke sektor yang lebih strategis dan berdampak luas.

Di tengah situasi tersebut, gencatan senjata tampak lebih sebagai langkah formal daripada penghentian konflik secara nyata. Ketidakpercayaan yang masih tinggi membuat masing-masing pihak tetap mempertahankan kesiapan militer.

Baca Juga: PM Pakistan: Gencatan Senjata AS–Iran Berlaku Menyeluruh, Termasuk di Lebanon

Kondisi ini menandakan bahwa konflik tidak benar-benar berhenti, melainkan memasuki fase baru dengan pola yang berbeda. Serangan terhadap sektor energi menjadi indikasi bahwa tekanan kini diarahkan pada aspek ekonomi dan logistik global.

Gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat tidak sepenuhnya mencerminkan stabilitas di kawasan. Selama kepercayaan belum terbangun, potensi eskalasi tetap terbuka dan konflik dapat kembali meningkat sewaktu-waktu.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Advertisement