Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tunggu Keseriusan Amerika Serikat, Delegasi Iran Segera Tiba di Pakistan

Tunggu Keseriusan Amerika Serikat, Delegasi Iran Segera Tiba di Pakistan Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Iran akan mengirim delegasi ke Islamabad, Pakistan. Hal itu dilakukan untuk melakukan pembicaraan terkait penyelesaian konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Duta Besar Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam menyatakan bahwa delegasinya dijadwalkan tiba pada malam hari di Kamis (9/4). Pembicaraan nantinya akan didasarkan pada proposal sepuluh poin yang diajukan oleh Teheran.

Baca Juga: Tak Dibantu Soal Perang Amerika Serikat-Iran, Trump Luapkan Kekecewaan ke Bos NATO

Iran dalam proposal tersebut menuntut jaminan bahwa tidak akan ada serangan lanjutan terhadap wilayahnya. Selain itu, mereka juga meminta penghentian serangan dari Israel ke Hezbollah di Lebanon.

Teheran juga menginginkan pencabutan seluruh sanksi internasional yang selama ini membatasi ekonominya. Sebagai imbalannya, mereka menawarkan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, terdapat syarat tambahan berupa biaya sekitar US$2 juta per kapal yang melintas dalam jalur tersebut. Biaya ini rencananya akan dibagi dengan Oman.

Adapun Iran juga akan menggunakan bagian dari pendapatannya untuk membiayai rekonstruksi infrastruktur yang rusak akibat serangan dari Israel dan Amerika Serikat. Pendekatan ini disebut sebagai alternatif dari tuntutan kompensasi langsung.

Moghadam mengatakan bahwa proposal ini diharapkan menjadi dasar menuju penyelesaian konflik yang lebih permanen. Meski demikian, pihaknya cukup meragukan komitmen negosiasi dari Amerika Serikat.

Hal ini dipicu oleh pelanggaran berulang terhadap gencatan senjata yang sebelumnya disepakati, terutama terkait aksi militer dari Israel. Diketahui, Israel melancarkan serangan paling intens ke Lebanon. Serangan tersebut menewaskan ratusan orang dan terjadi di tengah gencatan senjata dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat.

Menurut laporan, sedikitnya lima ledakan besar juga mengguncang wilayah dari dari Beirut. Lebanon melaporkan sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 luka-luka. Serangan ini menjadi serangan yang paling mematikan sejak konflik dimulai pada awal Maret.

Iran beranggapan bahwa kesepakatan gencatan senjata mencakup Lebanon. Sementara Amerika Serikat dan Israel menegaskan sebaliknya. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut perbedaan ini sebagai kesalahpahaman dalam proses negosiasi.

Vance menyatakan bahwa negosiator dari negara tersebut mengira gencatan senjata juga mencakup Lebanon. Padahal menurutnya hal tersebut tidaklah demikian. Ia menyebut hal ini sebagai kesalahpahaman yang wajar terjadi dalam proses negosiasi yang kompleks antara Iran dan Amerika Serikat.

Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata tidak mencakup konflik di Lebanon. Hal ini berarti operasi militer mereka tetap akan berlanjut terhadap kelompok dari Hezbollah. 

"Amerika Serikat telah memberi tahu kami bahwa mereka berkomitmen untuk mencapai tujuan ini dalam negosiasi mendatang. Gencatan senjata dua minggu tidak termasuk Lebanon," katanya.

Pernyataan tersebut tidak sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif. Ia menyebut kesepakatan gencatan senjata juga mencakup penghentian konflik di Lebanon.

Pakistan dalam negosiasi ini sendiri akan berperan sebagai mediator utama dalam upaya diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat. Pertemuan di Islamabad diharapkan menjadi langkah penting dalam meredakan ketegangan yang telah berlangsung selama berminggu-minggu.

Baca Juga: Inggris Tolak Rencana Iran Kenakan Tarif di Selat Hormuz

Kedatangan delegasi ini menandai kelanjutan upaya diplomasi di tengah konflik yang masih rapuh. Dengan berbagai perbedaan mendasar antara pihak-pihak terkait, keberhasilan pembicaraan akan sangat menentukan arah stabilitas kawasan ke depan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement