Kredit Foto: Reuters/Lean Daval Jr
Wakil Presiden Filipina Sara Duterte-Carpio menjadi kandidat terkuat untuk memenangi Pemilihan Presiden (Pilpres) Filipina 2028.
South China Morning Post menyebut situasi ini ironis, posisi puncak ini diraih di tengah rentetan krisis politik yang menderanya, mulai dari penahanan sang ayah di Den Haag, pecahnya kongsi politik dengan Presiden Ferdinand Marcos Jr., hingga ancaman proses pemakzulan di Mahkamah Agung.
Berdasarkan hasil survei terbaru dari lembaga jajak pendapat asal Manila, WR Numero, sebanyak 36 persen warga Filipina menyatakan akan memilih Duterte-Carpio jika pemilu digelar hari ini. Angka ini membuatnya unggul jauh dengan selisih 17 poin dari pesaing terdekatnya.
Dalam simulasi 12 nama kandidat, Sara mengungguli Senator Raffy Tulfo yang berada di posisi kedua, dan memimpin 20 poin di atas mantan Wakil Presiden Leni Robredo, pesaing Marcos Jr. pada Pilpres 2022.
Kandidat lainnya seperti Senator Bong Go meraih 4 persen, disusul Senator Bam Aquino (3 persen), dan Senator Francis Pangilinan (1 persen).
Survei yang melibatkan 1.455 responden dewasa secara nasional pada 10-17 Maret ini dirilis pada Selasa.
Jajak pendapat ini dilakukan sebulan setelah Duterte-Carpio mendeklarasikan niatnya untuk maju sebagai calon presiden pada Februari lalu. Langkah deklarasi dini tersebut dinilai para analis sebagai taktik untuk mencegah pembelotan dan memperkuat garis politik kubunya menjelang pertarungan 2028.
Para analis politik menilai tingginya elektabilitas Sara didorong oleh kuatnya basis pendukung setia klan Duterte, simpati publik atas penahanan ayahnya (mantan Presiden Rodrigo Duterte) oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), serta minimnya tokoh penantang yang menonjol dari kubu oposisi.
Tingkat kepuasan publik (performance rating) terhadap kinerja Sara sebagai Wakil Presiden juga terpantau stabil di angka 44 persen, naik satu poin dibandingkan bulan November lalu.
Pendiri dan Ketua WR Numero, Robin Garcia, menyebut posisi dominan Sara mencerminkan pembelahan faksi politik yang mengakar di kalangan pemilih Filipina. Survei tersebut juga mencatat bahwa 33 persen responden mengidentifikasi diri mereka sebagai pendukung klan Duterte.
"Angka Sara Duterte mencerminkan arus bawah dari politik faksi. Dari 33 persen pendukung Duterte tersebut, 66 persen di antaranya adalah pemilih militan (hard voters) yang tidak akan mengubah pilihan mereka. Kubu Duterte saat ini memiliki jumlah pemilih militan terbanyak dan merupakan faksi terbesar secara umum,” papar Garcia.
Di sisi lain, masih ada 20 persen warga Filipina yang mengaku belum menentukan pilihan (undecided voters). Menurut Garcia, kelompok pemilih bimbang ini adalah target krusial yang harus dimenangkan oleh para kandidat.
“Siapa pun yang berhasil meraup suara dari 20 persen kelompok ini akan menikmati lonjakan dukungan yang signifikan. Tugas utama seorang kandidat presiden saat ini adalah menjaga basis pendukung setia mereka, sekaligus merayu kelompok masyarakat yang belum menentukan pilihan,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: