Usai Dikecam Trump, Paus Leo Kini Peringatkan Bahaya Demokrasi Berubah Jadi 'Tirani Mayoritas'
Kredit Foto: Reuters
Pemimpin Gereja Katolik, Pope Leo memperingatkan bahwa demokrasi berisiko tergelincir menjadi “tirani mayoritas” jika tidak berakar pada nilai moral. Pernyataan ini disampaikan dua hari setelah dirinya dikecam oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Menurut Paus Leo, demokrasi hanya dapat tetap sehat jika didukung oleh fondasi moral yang kuat. Tanpa hal itu, demokrasi menurutnya hanya menjadi kendaraan bagi oligarki.
Baca Juga: Dari Kawan Jadi Lawan, Trump Bikin Publik Italia Marah Gegara Kecam Paus Leo
"Tanpa landasan ini, (demokrasi) berisiko menjadi tirani mayoritas atau topeng bagi dominasi elit ekonomi dan teknologi," kata Leo.
Paus menegaskan bahwa dalam ajarannya, kekuasaan tidak boleh menjadi tujuan utama. Ia menyebut kekuasaan seharusnya digunakan sebagai sarana untuk mencapai kepentingan bersama.
"Legitimasi kekuasaan tidak bergantung pada akumulasi kekuatan ekonomi atau teknologi, tetapi pada kebijaksanaan dan kebajikan yang dengannya kekuasaan itu dijalankan," kata Leo.
Paus Leo juga mengingatkan para pemimpin agar tidak tergoda untuk menumpuk kekuasaan. Ia menekankan pentingnya sikap pengendalian diri (temperance) dalam menjalankan otoritas seperti dengan menghindari ambisi berlebihan, mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan menjaga keseimbangan dalam kepemimpinan.
"Kesabaran terbukti penting untuk penggunaan kekuasaan yang sah, karena kesabaran sejati menahan kesombongan yang berlebihan dan bertindak sebagai pengaman terhadap penyalahgunaan kekuasaan," katanya.
Paus sendiri dalam pernyataanya tidak menyebut negara atau sistem politik tertentu. Namun, pesan tersebut muncul di tengah ketegangan dengan Trump. Ia sebelumnya menyebut sang tokoh religius sebagai sosok “buruk” setelah melontarkan kritik terhadap perang dari Amerika Serikat dan Iran.
Trump menyebut sang paus sebagai sosok yang lemah dan tidak memiliki kemampun untuk berpolitik dalam ranah internasional. Ia juga menyatakan secara terbuka bahwa dirinya bukan penggemar Paus Leo XIV.
"Paus Leo lemah dan buruk dalam kebijakan luar negeri. Saya tidak menginginkan seorang paus yang mengkritik presiden karena saya melakukan persis apa yang menjadi tujuan saya dipilih di Amerika Serikat," ungkap Trump.
Namun alih-alih marah, sang paus memberikan balasan yang menohok. Pope Leo menegaskan bahwa dirinya akan terus menyuarakan penolakan terhadap perang, meski mendapat serangan langsung dari Trump. Ia menekankan bahwa misinya adalah mendorong perdamaian dan dialog global, bukan terlibat dalam perdebatan politik.
"Saya tidak ingin berdebat dengannya. Pesan Injil tidak dimaksudkan untuk disalahgunakan seperti yang dilakukan beberapa orang," kata Leo.
Leo menegaskan akan terus berbicara lantang menentang perang dan mempromosikan solusi damai. Ia akan terus mendorong dialog antarnegara, kerja sama multilateral dan penyelesaian konflik secara adil.
Baca Juga: Trump: Negosiasi Amerika Serikat-Iran Bisa Dilanjutkan di Pakistan
“Saya akan terus bersuara lantang menentang perang, berupaya mempromosikan perdamaian, mendorong dialog dan hubungan multilateral antar negara untuk mencari solusi yang adil bagi permasalahan,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement