Gejolak di Iran Hantam Fundamental Ekonomi Thailand, Bank Sentral: Memang Seburuk itu
Kredit Foto: Reuters/Jorge Silva
Bank Sentral Thailand (Bank of Thailand/BoT) memproyeksikan perlambatan ekonomi yang signifikan pada tahun ini imbas berkecamuknya perang di Iran.
Bangkok Post melaporkan seorang pejabat senior BoT bahkan memperingatkan bahwa "hampir tidak ada batas" bagi skenario ekonomi terburuk apabila konflik ini terus berlarut.
Asisten Gubernur BoT, Chayawadee Chai-anant, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Thailand saat ini mulai melambat.
Sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang sangat bergantung pada energi impor, Thailand sangat rentan terhadap gejolak global.
Perang antara AS-Israel dengan Iran telah memicu lonjakan biaya impor dan memukul telak sektor pariwisata yang menjadi andalan negara tersebut.
"Akan ada tren penurunan untuk banyak hal," ujar Chayawadee di sela-sela pertemuan musim semi IMF-Bank Dunia di Washington.
Chayawadee merinci, kunjungan wisatawan dari negara-negara Teluk anjlok hingga mendekati angka nol pada Maret lalu akibat penutupan bandara regional imbas dari serangan Iran.
Angka kunjungan tersebut belum pulih sepenuhnya, padahal wisatawan dari kawasan Teluk biasanya menyumbang sekitar 7 persen dari total pengeluaran pariwisata di Thailand.
Kondisi serupa terjadi pada kunjungan wisatawan asal Malaysia yang juga merupakan salah satu motor penggerak industri pariwisata Thailand. Tingginya biaya bahan bakar membuat banyak warga Malaysia menunda perjalanan darat mereka menuju Thailand.
Menyikapi tekanan ini, BoT memangkas baseline pertumbuhan PDB menjadi 1,3 persen untuk tahun 2026 dengan asumsi perang berakhir pada paruh kedua tahun ini. Angka ini turun dari proyeksi bulan Desember yang berada di level 1,9 persen.
Sebelumnya pada bulan Februari, pemerintah sempat menaikkan prospek pertumbuhan di kisaran 1,5 hingga 2,5 persen. Adapun tingkat inflasi dalam skenario saat ini diperkirakan akan menyentuh 3,5 persen.
Chayawadee menjelaskan bahwa fundamental ekonomi Thailand yang kuat sebelum krisis cukup membantu meredam guncangan, namun tekanan yang ada saat ini diakui sangat berat.
"Terkait skenario terburuk, tidak ada batasannya. Memang seburuk itu," tegasnya.
Para pembuat kebijakan sebelumnya memperkirakan transaksi berjalan (current account) akan mencatatkan surplus sekitar 2 miliar dolar AS tahun ini. Namun, ia menyebut angka tersebut harus direvisi lebih rendah, dan tidak menutup kemungkinan berbalik menjadi defisit.
Terkait kebijakan moneter, BoT kemungkinan baru akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga jika inflasi bertahan lebih dari setahun.
Itu pun belum bisa dipastikan, sebab Gubernur BoT sebelumnya menyatakan bahwa kenaikan suku bunga tidak akan banyak berdampak dalam mengatasi inflasi yang didorong oleh gangguan pasokan (supply-driven inflation).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait:
Advertisement