Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

KKP Bongkar Fakta: Penyu Jadi Alarm Kerusakan Laut di Belitong

KKP Bongkar Fakta: Penyu Jadi Alarm Kerusakan Laut di Belitong Kredit Foto: Antara/Irwansyah Putra
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan bahwa keberadaan penyu di Belitong bukan sekadar satwa dilindungi, melainkan indikator penting kesehatan ekosistem laut.

Karena itu, KKP memperkuat komitmen perlindungan dan penyelamatan penyu melalui kolaborasi lintas sektor di kawasan Belitong UNESCO Global Geopark.

Upaya tersebut diwujudkan lewat kegiatan Sosialisasi Strategi Pengelolaan Penyu yang baru-baru ini digelar di Belitung. Kegiatan ini melibatkan pemerintah daerah, pelaku wisata, asosiasi, serta masyarakat untuk menyelaraskan kepentingan ekonomi dengan tanggung jawab ekologis.

“Jika penyu masih bertelur, maka ekosistem masih terjaga. Sebaliknya, hilangnya penyu menjadi tanda awal kerusakan yang lebih besar,” ungkap Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Penataan Ruang Laut dan Kerja Sama Luar Negeri, Dyah Erowati, dikutip dari siaran pers KKP, Jumat (17/4).

Dyah menambahkan bahwa konservasi penyu harus dilakukan secara sistematis, terukur, dan berkelanjutan melalui roadmap yang jelas serta penguatan implementasi di lapangan.

Lebih lanjut, Dyah menekankan bahwa status Belitong UNESCO Global Geopark membawa tanggung jawab besar untuk mengintegrasikan aspek konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan secara seimbang.

Sosialisasi ini juga mendorong perubahan paradigma dari pemanfaatan menuju konservasi berbasis manfaat, di mana penyu diarahkan menjadi bagian dari ekowisata berkelanjutan melalui kegiatan seperti pelestarian tukik dan edukasi lingkungan.

Mewakili Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik KKP, Sarmintohadi, menyampaikan bahwa konservasi penyu merupakan bagian dari strategi nasional yang dilaksanakan melalui tiga pilar utama, yaitu perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan berkelanjutan yang harus dilaksanakan secara terpadu dan berbasis data.

“Upaya konservasi penyu tidak dapat dilepaskan dari tantangan yang ada, seperti penurunan populasi, degradasi habitat, serta tekanan aktivitas manusia. Oleh karena itu, diperlukan penguatan sistem pemantauan, penegakan hukum, serta keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari solusi jangka panjang,” urainya

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Belitung, Marzuki, menyampaikan bahwa keberhasilan konservasi penyu sangat penting dalam mendukung keberlanjutan status geopark. Ia menambahkan bahwa Pulau Cina sebagai bagian dari Kawasan Konservasi Daerah (KKD) menjadi lokasi strategis peneluran penyu dengan peran ekologis yang signifikan. 

Baca Juga: Bantah Isu Dijual Rp 65 Miliar, KKP Resmi Segel Pulau Umang di Pandeglang

Baca Juga: Menteri KKP dan Gubernur Jawa Barat Tinjau Proyek Hunian Warisan Bangsa Purwakarta

Sebagai tindak lanjut, dilakukan kunjungan lapangan ke Pulau Cina untuk meninjau fasilitas penyelamatan penyu yang dikelola PT Penyu Lima Konservindo. Kunjungan lapang ini bertujuan memastikan kesiapan Pulau Cina sebagai pusat konservasi penyu yang terintegrasi dengan wisata dan edukasi.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa penyu merupakan biota laut dilindungi yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Melalui Rencana Aksi Nasional Konservasi Penyu dan kebijakan ekonomi biru, KKP terus mendorong perlindungan habitat, pengawasan terhadap aktivitas ilegal, serta pelibatan masyarakat sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sumber daya kelautan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

Advertisement